Jumat, 20 Februari 2009

Tes Posting


Ini adalah posting uji coba praktek membuat blog

Sabtu, 07 Februari 2009

Pokoknya Saya Mau di SD ajah

Saya sedang duduk berbincang-bincang, menemani bu Kirsan yang sedang memasak makan malam. Kesana dan kemari. Membicarakan beberapa hal, masalah sekolah dan yang lain-lain. Tau-tau, perbincangan kita beralih kepada rencana yayasan yang akan membuka SMPI tahun-tahun depan.

‘Al, kayaknya kamu bakal ngajar di SMP deh nantinya. Beberapa kali, pak Ketua Yayasan membicarakan itu. ‘

Apa? SMP? Walah, Kir, sekarang aja aku udah lumayan stres ini menghadapi anak-anak beranjak ABG. Kadang pengen tereak sendiri, Tolooooong! Somebody help me! Kembalikan saya ke kelas 2 please…

Bu Kirsan ketawa.

Mengajar kelas kecil, capek fisik. Anak-anaknya masih banyak perlu bantuan untuk apapun. Tapi, tiap hari ketawa-tawa. Sementara mengajar kelas besar, belum satu tahun saja, saya merasa kening saya sudah banyak berkerut. Suara saya meninggi. Astaga.. astaga! Kelas 4 dan 5 itu, sudah dimulai deh masa-masa pemberontakannya. Saya kesal karena mulai merasa banyak sekali mengatakan kata yang paling tidak saya suka:

POKOKNYA.. bla..bla..bla…

Belum satu tahun, anak-anak saya sudah berubah pendapat mengenai saya. Tadinya menurut mereka, saya guru yang lucu. Sekarang, berdasarkan tulisan beberapa anak kelas lima, saya adalah guru yang sangat tegas. Walaupun kelas IPS tetap merupakan kelas fave anak-anak, tapi itu sudah membuat saya terhenyak.

Bayangin, saya udah gak lucu lagi.

Ah, masa sih saya udah gak lucu?

SMP?

Adik saya SMP, dan saya sering clenut-clenut dibuatnya. Padahal, itu Cuma satu orang anak di rumah. Bagaimana menghadapi segambreng anak ABG lagi demen-demennya memberontak.

Pokoknya, saya mau di SD aja.

Rabu, 07 Januari 2009

Tukang Busa

Kawan saya selama liburan kemarin latihan naik sepeda bolak-balik ke kantornya. Katanya, mobilnya mau dikandangkan. Cuma dipake pas pergi-pergi dan musti bawa banyak orang, atau perjalanan jauh saja. Sebab sudah terlalu banyak orang naik mobil pribadi ke kantor.

Bikin macet.

Polusi.

Sekalian olahraga.

Saya nyengir, beneran niat? Gak bisa nebeng minta jemput lagi dong saya.

Mau kan, digonceng? Katanya.

Kalau kuat, gak masalah. Asal jangan saya nanti yang musti gantian ngebonceng kalo jantungmu keteteran.

Kalau kamu kuat berdiri dari pinggir Jakarta sampai rumahmu, katanya. Boncengannya boncengan yang berdiri.

Gak deh! Mending naik angkot aja.

Lucu juga ya? Bener juga tapinya.

Gak usah berbusa-busa ngeluh soal kemacetan di Jakarta kalau Anda masih pakai mobil pribadi sendirian tiap hari ke kantor!

Gak usah berbusa-busa ngoceh masalah global warming ataupun polusi atau pencemaran kalau Anda masih pergi naik mobil pribadi sendirian tiap hari ke kantor!

Sebab, Anda hanya tukang busa!

Wiiih, galaaakkk!!!

Minggu, 04 Januari 2009

Road Trip Kali Ini

Seperti biasa, saat liburan, kami pergi jalan-jalan. Bukan tamasya ke tempat-tempat wisata, tapi kami senangnya menghabiskan waktu di jalan raya di dalam mobil. Road Trip. Adik saya Anne yang memulai sebutan itu. Kayak film, katanya.

Road Trip kali ini rutenya adalah rute yang paling sering kami lalui: Jakarta-Subang-Lembang-Bandung-Bogor-Jakarta. Sebenernya, saya agak malas, namun ada beberapa urusan. Di Subang dan Bogor, lalu sekonyong-konyong, semua bilang: ya udah, Road Trip aja..

Peserta: Seperti yang biasa, minus Anne. Sayang sekali dia harus tetap di rumah, menulis artikel. Juga laporan praktek mengajarnya heuheuheu… Maap ye, ditinggal kali ini.

Dari Jakarta berangkat lebih cepat dari biasanya, jam 5 sore. Biasanya selepas maghrib kami baru mulai meninggalkan rumah. Ke Bekasi dulu jemput Uli dan Tia. Tiba di Subang selepas Isya. Sempat bengong dulu depan rumah nenek karena ternyata nenek sedangpergi. Tapi pas udah bisa masuk rumah, kita ngegabruk di lantai. Tapi tentu, gak seru kalau gak menggasak nasi+sambal goangnya Nek yang mak nyos ntu. Lalu, cengengesan.

Nek: Tia, si Baim Wong teh, orang Puwodadi

Tia: Ehh, iya ya nek?

Nek: He-eh. Itu, bapaknya punya toko mas, ceuna! (menunjuk-nunjuk sesuatu di dinding)

Beberapa menit kemudian, saya berdiri dan memperhatikan apa yang tadi ditunjuk-tunjuk Nek, lalu merasa geli sekali. Ternyata yang ditunjuk itu kalender 2009 bergambar pemain sinetron Baim Wong. Kalender itu dikeluarkan oleh sebuah toko emas yang berlokasi di Purwodadi, he..

Pagi-pagi saya, AV dan Tia berangkat ke sawah. Mau ngapain coba ke sawah? Mau poto-poto. Nah, gak penting bukan? Saya rada males karena perjalanannya itu yang melelahkan. Maklum, udah gak selincah dulu waktu masih bocah. Sumpah deh, itu turun ke bawah curam banget. Gak bisa pakai sandal karena pasti bakal putus. Belum lagi jembatan horror yang, sebetulnya sih gak layak dibilang jembatan. La orang Cuma terdiri dari sebatang bamboo doang.

Beuh, meni riweh!

Saya sering heran kalau ingat bahwa itu kan jalur yang biasa saya lalui saat kecil dulu. Ternyata saya waktu bocah, jagoan!

Di sawah poto-poto. Terlalu narsis buat dipajang disini. Nanti Anda pnigsan lagi, atau lebih parah, disedot buat nakut-nakutin kucing.

Walaupun emang kenyataannya norak minta ampun dan setengah sedeng—poto-poto di sawah??—tapi entahlah. Itu semacam ritual setiap ke Subang. Waktu kecil, setiap ke desa ini, kami selalu tak sabar menunggu ke sawah. Mau ngapain? Mau bertualang (AKA menghayal). Menjelajah sawah, nyebur di empang nangkepin ikan dan belut, lalu membakarnya. Bangor :P Saat gedean dikit, kita mulai berani makin jauh menyusuri sungai.

Pulang dari sawah, kita mandi dan siap-siap pergi. Saya sempat keluyuran sekitar rumah. Menemukan permen Davos, masih dijual di warung. Ini permen kesukaan saya waktu kecil. Saya sampai memotretnya. Permen Davos diatas meja yang ditutupin taplak Golkar.

Ini juga jajanan saya semasa kecil, susu-susuan dan balon. Kalo balon sampai sekarang memang masih banyak dijumpai.

Selama beberapa saat kami ngider-ngider di jalan desa, sempat melewati kburan keluarga. Saya jadi ingat beberapa bulan yang lalu, terakhir kita ke sini. Ceritanya mau ziarah kubur sebentar. Nah bagi keluarga saya, nyang namanya ziarah kubur itu ngebersihin kuburan dan doa-doa sekedarnya. Alfatehah, lalu ngedoain yang dikubur itu, biar dimudahkan. Tapi pas kita ziarah beberapa bulan yang lalu, beberapa keluarga senior ikutan. Nah, dianggap anak kecil, ikutanlah kita acara ziarahnya mereka.

‘Illa hadrotin nabi rosulillah…. ‘ kata kakeknya Imam. ‘Yaasin..’

Jegrek!!! Saya terbengong-bengong. Yasin?

‘Yaa siiin. Walqur’aanil hakim…’

Jam 10 kami berangkat ke Lembang.

Sebelum berangkat, kita rembukan. Apa di Bandung yang belum pernah kita datengin? Semuanya sepakat: Bosscha… Lalu dengan PDnya, kita samperin tempat ngeker bintang ntu. Tau-tau, di depan jalan kecil masuk ke dalam, ada tulisan.

Hari Sabtu-Minggu dan hari-hari libur nasional tutup.

Jegrek!! Tutup jek! Kumaha eta?

Ya gimana lagi, kata saya. Masa mau lompat pager nerobos ke sono!

Eh! Apa lompat pager aja ya, lalu nekat nerobos ke sono. Mumpung muda gitu loh! Masa gak ada kenangannya sih ditangkep polisi? Ya gak sih? (Ini guru gak pantes dicontoh!)

Akhirnya, kita cuma terpesona melihat pajangan kecil berbentuk teropong yang dijual abang-abang di depan pintu pagar. Tapi gak ada yang nekat beli hehehe… Lalu, ngacir.

Gak jadi mau main Sherina dan Saddam heuheu…

Bandung, entah kenapa nyampenya ke Chiampelas lagi..Chiampelas lagi…

Kata yang lain: Bosen ah! Murahan baju-baju di PGC.

AV: Kan mumpung disini, mampir dulu napa. Liat-liat aja, kan seru.

Tia: Perasaan mumpung disini terus. Kita ke sini kan sering banget.

Saya: Gak seru! Kalau mampirnya di Kwitang, baru seru. (Yang lain menyeringai. Aduh Anne, temenku satu sekte kutu buku, kenapa sih gak ikut…!!)

Tia: Ini dua orang, gak shalat Jum’at? (Nunjuk cowo-cowo)

AV: Ya udah, sambil yang lain Jum’atan, pinggir dulu aja.

Akhirnya minggir juga. Saya sempat liat-liat baju bentar sebelum kambuh tuh phobia bikin saya mual. Heran, saya gak tahan banget yang namanya ikut cewe-cewe belanja, baru beberapa menit saja, langsung mual-mual pengen muntah.

Mungkin saya tadi harusnya ikutan aja shalat Jum’at sama cowo-cowo ya?

Akhirnya, menyerah. Saya berpisah dari cewe-cewe yang jelas sudah mulai terlihat kalap dan bakalan seru ngubek-ngubek sampai ujung. No..no! Saya masuk ke gang kecil di sela-sela FO lalu mulai menyusuri sampai jalan kecil menuju rumah-rumah penduduk yang luarbiasa padat. Bertemu dengan anak-anak yang sedang main sambil jajan di depan suatu mushalla kecil. Saya beli es potong yang harganya gope’an (gope: lima ratus rupiah), lalu duduk asik makan sambil memperhatikan anak-anak itu yang sedang asik main Bete (Taplak Bulan). Hehehe..beberapa bulan yang lalu, saya mengajarkan anak-anak kelas 5 main permainan ini. Jadi ingat, saat Arif jatuh bedebum ke lantai karena kehilangan keseimbangan saat musti ningkring (lompat satu kaki) 5 kotak beturut-turut.

Es potongnya enak loh. Lumayan lah untuk jajanan pinggir jalan yang gak jelas begitu. Saya beli yang rasa alpukat, ternyata benar-benar alpukat. Masih tersisa serpihan-serpihan daging alpukat yang tidak hancur.

Saya memperhatikan anak-anak sambil senyum-senyum sendiri sampai sadar, ternyata anak-anak juga memperhatikan saya. Terheran-heran. Ini orang dari mana, gitu kali ya pikiran mereka. Tau-tau nongol, nongkrong terus ngeliatin anak-anak main. Entahlah, saya teringat pada hari ambil rapot, salah seorang walimurid berkata pada saya,

‘Saya senang di sekolah ini banyak bergeraknya. Banyak olahraga, banyak kegiatan di luar kelas. Saya lihat, pelajaran anak-anak sekarang itu berat sekali. Bahkan saya kasih soal anak saya ke keponakan yang tinggal di Inggris, dia tuh gak bisa. Pelajaran di sini kelas 4, mungkin di sana baru SMP. Yang saya pikirin itu, kasihan anak-anak sekarang, apa yang diingat nanti kalau besar. Yang menginspirasi kita hari ini kan saat-saat kecil waktu kita main bu Alifia, waktu kita kesana dan kemari. Hal-hal seperti itu yang menginspirasi kita hari ini. Anak-anak yang sekarang, nanti apa yang diingat mereka? Belajar terus-terusan?’

Kami pergi sekitar pukul dua siang. Tadinya masih mau keliling Bandung, gak macet tumben banget. Tapi demi mengejar urusan di Bogor yang musti rampung hari ini, kita tancap gas. Langsung pergi karena tau, bakal macet.

Kejebak macet di Cipanas sampai Puncak.

Macetnya betul-betul tidak bergerak. Paling lama saat kami tepat di depan masjid At Ta’awun. Ada kru salah satu stasiun TV sedang siaran, melaporkan kemacetan ini mungkin. Niatnya pas kamera mengarah jalan, kita mau nyengir-nyengir najong gitu kea rah kamera dan melambai-lambai. Gak apa-apa norak sekali-kali (sekali-kali? Lah, poto-poto di sawah itu?). Tapi tu kamera kagak nyorot-nyorot ke kita, pegel nunggunya. Suebell…

Akhirnya, bercanda jadi garing dan menyebalkan juga. Saya tertidur karena bosan, pas bangun terkejut sekali, ternyata masih di depan At Ta’awun. Astaga! Semua mobil mati mesinnya, orang-orang berada di luar duduk-duduk dan ngobrol. Beberapa keluarga malahan udah sebodo teing, menggelar tiker dan makan. Asiknya…

Tiba di Bogor sudah Isya. Urusan selesai, kita saling tengok-tengokan.

Jadi, mau kemana lagi?

Mau kemana? Mumpung di Bogor.

Pulang, kata semuanya.. Semangat kita amblas gara-gara macetnya yang kelamaan.

Ke Jakarta?

Iyaaa… Udah ah! Pulang aja!

Ya udah, pulang. Maunya pada gitu. Sampai Road Trip selanjutnya.

Senin, 17 November 2008

Saran

Saat kuliah semester satu, saya bertemu bapak ini.

Beliau adalah dosen MK Agama Islam.

Ketika pertama saya melihat MK ini di tercantum di KRS, saya mengeluh. Udah kuliah masih ada pelajaran agama Islam? Bukannya saya gak suka namun apakah tidak buang-buang waktu saja. Pada akhir masa SMA saya membayangkan bahwa jalannya kuliah seperti kisah-kisah di buku yang saya baca atau di film. Walaupun saya juga membaca di Battle for God sang penulis mengeluhkan jalannya perkuliahan di Negara-negara berkembang yang memprihatinkan, kelas dipenuhi orang yang berjubel hingga berjumlah ratusan, dosen ngoceh panjang lebar serta mahasiswa sibuk mencatat sampai berjam-jam. Saya memutuskan tidak mengambil MK Agama Islam yang ternyata gagal karena MK itu adalah wajib. Untung MK itu wajib.

Hari pertama sang dosen datang, berjalan tertatih-tatih. Bapak ini sudah tua. Beliau langsung mengumumkan bahwa MK Agama Islam isisnya bukan pelajaran shalat atau yang seperti itu. Tapi sebuah diskusi mengenai agama islam. Beliau bertanya, apakah kami membawa al Qur’an. Beliau menginginkan kami membawa al qur’an terjemahan setiap masuk perkuliahannya.

Beberapa orang berkata, bawa.

Beliau bertanya pada kami semua apakah kami orang Islam?

Ya…

Apakah kami percaya semua doktrin dalam Islam?

Ya..

Apakah kami percaya bahwa di dalam al qur’an terdapat semua tuntunan hidup sehingga kita tidak perlu mencari dari sumber yang lain?

Ya..

Kalau begitu, carikan saya ayat tentang menyembuhkan Kangker Darah!

Tentu tidak ada.

Tidak ada?

Tidak ada.

Berarti al qur’an tidak lengkap. Tidak bisa jadi tuntunan hidup. Lalu kenapa kalian beragama Islam?

Nah begitu. Tidak seperti dosen kebanyakan yang ceramah, memberi fotokopi banyak dan menyuruh mencatat panjang sekali, bapak tua ini memaksa kami berpikir setiap perkuliahan. Beliau selalu membawakan kami pertanyaan pertanyaan pelik, membawa sesuatu untuk didiskusikan, dan sering memancing perdebatan yang panas dan panjang. Tentu tidak semua siswa setuju walaupun semua sepakat bahwa beliau adalah dosen yang hebat. Kebanyakan yang tidak setuju lebih dikarenakan materi yang diperdebatkan itu. Ya..selalu pelik jika bicara mengenai agama. Namun bagi saya pribadi, saya meninggalkan MK ini dengan rasa sedih dan kehilangan.

Saya tidak pernah bertemu dengan beliau lagi sampai pada suatu hari, beberapa hari sebelum beliau meninggal dunia.

Hari itu saya datang lebih cepat. Saya muncul di kampus pukul 8 pagi sementara kuliah saya baru dimulai pukul 10.30. Salah jadwal? Tidak, itu memang sengaja. Saya malas datang siang sebab hari sudah panas. Seperti hari-hari biasanya saya menuju perpustakaan. Namun hari itu perpustakaan penuh orang, terpaksa pergi mencari tempat lain yang sepi untuk bisa baca buku dengan tenang. Berjalan-jalan mencari kelas yang kosong. Saya menemukan satu kelas yang dari luar tidak ada suara, saya masuk, langsung berhenti. Bapak dosen ada didalam, duduk di kursi siswa membaca buku sendirian.

Beliau berdiri dan membereskan barang-barang.

‘Mau masuk kelas?’ tanyanya..

Ada kelas disini pak?

Kami bicara berbarengan. Beliau mengernyit.

‘Tidak.. saya Cuma mencari tempat yang sepi untuk membaca buku.’

Oooo.. sama aja ternyata. Saya agak ragu, tapi kemudian memutuskan untuk berkata

saya juga mencari tempat untuk membaca.

‘Oh, ya sudah. Silahkan…’ beliau membuka kembali buku dan membaca. Saya duduk beberapa kursi disebelah beliau dan membaca buku dengan tenang. Kami berdua membaca, tidak mengganggu satu sama lain.

Hampir satu jam kemudian, saya mengintip jam tangan. Si bapak menoleh.

‘Sudah mau mulai kuliahnya?’

Gak, masih satu jam lagi.

Dia tertawa.

‘Mbak jurusan apa sih?’

Perpustakaan.

Kami berkenalan. Lucu ya, berkenalan. Ya tentu, lah dulu waktu saya masuk kuliahnya beliau kan di kelas ada lebih dari 400 orang. Satu fakultas satu angkatan. Weleh-weleh. Walaupun saya cukup aktif di kelas, yang lain juga aktif. Rame lah kelas selalu.

‘Begini, saya mau minta pendapat. Menurut Mbak, bagaimana perkuliahan saya?’

Saya mengangkat alis.

Beliau mengungkapkan apa harapan beliau akan perkuliahan, apa sebetulnya yang ingin dia sampaikan sepanjang waktu kuliah yang singkat. Namun beliau juga mengungkapkan beberapa hal yang mengganggu pikirannya. Apa-apa yang membuat beliau gelisah. Dan akhirya, pertanyaan apakah dia adalah seorang guru yang baik? Beliau mengungkapkan beberapa kelemahan perkuliahannya (metode maupun isi) dan beliau meminta saran saya bagaimana agar bisa lebih baik.

Saya agak melongo. Tidak pernah dalam hidup saya seorang guru mengungkapkan hal-hal tersebut secara gamblang. Beberapa guru saya tentu saja selalu terbuka terhadap kritik dan saran, namun tidak secara sukarela memintanya kepada siswanya. Kebanyakan dosen mah maju terus pantang mundur dengan cara dia mengajar yang terkadang membuat saya seperti kembali ke SMA saat hampir sepanjang hari dihabiskan dengan mencatat (yups, masa SMA adalah masa terburuk sekolah. Masa siswa paling gak aktif). Beberapa dosen yang memberi inovasi saat mengajar selalu berbicara bahwa ‘cara kita belajar seperti ini adalah cara yang lebih baik’ seakan-akan dia sendri yang menerapkan dan seakan-akan sudah sempurna. Bapak dosen ini sudah tua, tapi siapa yang menjamin bahwa guru muda selalu lebih baik dari guru yang sudah senior.

Selama satu jam saya dan bapak dosen yang sangat dihormati ini terlibat diskusi yang seru. Saya memberi beberapa saran. Lalu kami diskusi mengenai buku dan pemikiran-pemikiran Karen Armstrong. Sungguh saya rela tanpa mikir untuk mengorbankan kuliah saya hari itu demi tetap berada di sebelahnya, bahkan mungkin saya rela jika saya menggagalkan mata kuliah ini demi saya berdiskusi dengan bapak dosen satu hari dalam seminggu. Perasaan apa yang saya dapatkan dari diskusi setengah jam itu jauh lebih banyak daripada 3 jam duduk mendengarkan ceramah ibu dosen yang gak ada matinya. Tapi sial, kami duduk dikelas yang akan saya masuki. Setengah jam kemudian, kawan-kawan saya mulai berdatangan. Si bapak dosen berdiri membereskan barang-barangnya. Saya membantunya.

Cari kelas kosong lagi pak?

‘Ya kalau kita bisa meneruskan diskusi, tapi Mbak mau masuk kelas. Saya mau pulang kalau begitu. Supir saya sepertinya sudah selesai. Saya sebenarnya menunggu supir saya ada urusan.’

Dalam hati: Oh no! Gak papa, mari cari kelas lain. Saya sebal mata kuliah ini.

‘Diskusi yang menyenangkan Alifia, mungkin lain kali kita lanjutkan lagi. Wassalam.’

Wa’alaikum salam.

Hari itu berlalu begitu saja. Saya dengan kesibukan saya. Saya lupa. Saya baru ingat kembali saat beberapa minggu kemudian saya tanpa sengaja melihat kertas pengumuman besar di madding kampus.

INNALILLAHI WA INNA ILAIHI ROJI’UN

TELAH MENINGAL DUNIA

…………………………………………………….

Saya terpana mendekatkan muka saya dekat sekali dengan kertas, menyentuhkan telapak tangan saya pada permukaannya.

Dia telah pergi..

Rabu, 29 Oktober 2008

Maling yang Aneh

Hari ini saya dan rekan-rekan nongkrong di warung bakso langganan selepas jam kerja. Sambil menunggu hujan besar reda, saya tidak sadar bahwa sesuatu yang naas sedang terjadi.

Tiba di mess—mess kami tidak di dalam kompleks sekolah—saya dan kawan yang tinggal dengan saya terbengong-bengong. Pintu rumah ngablak terbuka lebar. Terdapat robekan-robekan kasar di pinggirannya menandakan bahwa ada orang yang berusaha mencongkel dari luar.

Ya Allah! Rumah kami dimasukin orang….

Oh Nooo!!!!! Tepat sekali hari ini saya tidak bawa laptop ke sekolah. Terlalu banyak barang yang saya bawa hari ini dan ntu benda hitam manis, berat boo….

Jadi…. Jadi… OH NO!

Saya menyerbu masuk dan…..

Ajaib! Sungguh ajaib, laptop saya nangkring manis seperti tadi pagi saya tinggalkan. Diatas meja di ruang tengah. Disebelahnya, HP saya yang dari dulu udah gak pernah akur sama saya dan sering ketinggalan. Dua-duanya nangkring manis menatap saya. Haahhhh!

SUJUD SYUKUR!!!

Lalu.. lalu….

Setelah kami berdua mengobrak abrik rumah, tercatat yang hilang adalah hape kawan saya itu yang gak sengaja juga ketinggalan, mereknya Hi Tech, dan charger hp nokia saya. Gak maching ya…

Logis gak sih?

Yah.. mungkin malingnya ribet aja kali bawa TVatau barang-barang elektronik lain. Tapi laptop? Dan hape saya? Si Maling uadh cape-cape ngedobrak pintu gitu loh!!

Malem-malem kami pergi ke toko bangunan, yang rada jauh, untuk nyari kunci baru dan pintu, lalu harus membetulkan pintu rumah. Alhamdulillah bapak-bapak tetangga sangat baik hati dengan tanpa pamrih mereka menawarkan bantuan untuk membetulkan pintu rumah dan memasang kunci baru. Sekaligus kami juga mengganti kunci pintu belakang dan menambah gerendel pintu dua biji untuk tiap pintu dan masih merasa..kurang kali ye.. mungkin butuh tiga gitu untuk tiap pintu, gerendelnya heheh. Ngeri juga bo kita dua cewe cantik gini, gimana kalau tau-tau malem-malem ada orang masuk..hiiiiiyyy…Mana rumahnya disebelah kebon lah kalo kita ngejerit-jerit tengah malem gak ada yang denger.

Karena kalut, nelpon ibu di rumah langsung dimarahin panjang sekali. Heheheh, gak apa-apa deh dimarahin.. namanya juga anak..

‘Makanya kamu tuh jangan slebor jadi orang bla..bla..bla…’

Akhirnya malam ini saya dan kawan tidur sekamar berdua. Tatuuuuttttt….

Saya jadi ingat beberapa kali kemalingan yang saya alami..yup saya sering kemalingan sodara-sodara! Selama kuliah, tiga kali.

Yang pertama, hape saya yang jadul nokia jaman dulu. Kejadiannya di STPDN. YUP..STPDN itu sodara-sodara! Kejadiannya di sekre Dompet Duafa.

Waktu kuliah dulu, saya dan kawan-kawan organisasi tergabung dalam subdivisi bernama Program Perduli Mustadlafin. Kerja kita sih gak banyak, cuman nyari-nyari beasiswa kesana kemari lalu menyalurkannya ke anak-anak yang membutuhkan di berbagai SD di kecamatan Jatinangor. Kebetulan kawan-kawan STPDN memiliki organisasi sejenis, namun rada kesulitan karena mereka gak punya banyak waktu untuk melakukan pembinaan bagi anak-anak asuh mereka. Lah orang mereka kerjaannya kalo gak upacara ya baris berbaris heheh. Tapi mereka punya channel yang kuat ke arah kucuran dana. Mereka juga punya niat yang tulus untuk membantu orang lain. Ini salah satu sisi lain dari mahasiswa STPDN yang mungkin jarang kita dengar tapi percayalah, mereka gak sepenuhnya gelap kok.. Mereka anak-anak mahasiswa biasa yang terjebak dalam sistem yang keras. Akhirnya kami melakukan kerjasama, mereka menanggung sebagian besar beban beasiswa sementara kami bertanggungjawab melakukan pembinaan. Jadi saat itu saya dan kawan-kawan sering mondar-mandir ke STPDN untuk macem-macem urusan.

Hari yang naas itu adalah bulan Ramadhan. Kami menyelenggarakan pesantren kilat untuk anak-anak asuh kami. Tempatnya di STPDN yang memiliki tempat memadai serta gratis heheh.. Siang itu saya di masjid mengajarkan shalat Dhuha lalu mengajar baca al Qur’an kepada anak-anak asuh dan saat kembali ke sekre, hape saya sudah raib. Akhirnya saya cuma bisa termangu. Seorang kawan, mahasiswa STPDN nanya,’kamu kenapa bengong?’

Hape saya ilang bang..

‘Apa? Hilang? Disini?’

Iya..baru aja…

Kawan saya langsung pergi. Beberapa menit kemudian datang dan mengatakan saya dipanggil imam masjid. Ehhh!!! Dipanggil imam masjid? Saya berlari-lari mengikuti kawan yang jalannya sangat cepat menuju masjid. Sang imam duduk di tengah masjid, saat saya datang, beliau berdiri.

‘Hape kamu yang ilang?’

Iya ustadz..

‘Gak usah bingung, saya udah hubungi beberapa orang. Pintu pagar sudah ditutup semua. Kita geledah semuanya. Malu-maluin aja, masa di STPDN ada yang kehilangan! Nanti siapapun yang ketahuan bawa hape kamu, kita pukulin rame-rame..’

Ehhhhh… Imam masjid kok ngomongnya gitu ya?

Ya akhirnya hape saya gak ketemu dan gak ada orang yang dipukulin hari itu karena masalah hape saya. Kalau masalah yang lain, mana saya tau..

Yang kedua, ini rada aneh. Maling masuk ke kost-kostan kami.

Malam kejadian saya menginap di kampus karena ada acara ospek anak baru. Pulang pagi saya mendengar kabar ada maling masuk kostan tadi malam. Tapi maling ini rada aneh sebab yang hilang adalah barang-barang yang ada di kamar mandi. Tau kan, ada 12 cewe tinggal bareng, di kamar mandi pasti penuh barang. Berbotol-botol shampoo, sabun cair, lulur mandi, pelembab dan parfum. Gak semuanya hilang sih, sikat gigi dan persediaan pembalut gak ikut hilang. Najong kali ye… Selain itu, sepatu-sepatu dan sandal-sendal yang berserakan di depan kamar juga ikut hilang.

Ini maling apa pemulung ya?

Yang ketiga, ini juga lucu dan agak nyeremin. Masih di kostan dan yang hilang adalah barang paling berharga yang kami miliki, TV.

Kami punya TV cuman satu, tapi hebat sekali. Gambarnya suka berlipet-lipet dan baru bisa normal lagi kalo sudah dipukul-pukul ubun-ubunnya. Hebatnya tu TV, cumin bisa nangkep sinyal SCTV sama TPI doing—waktu itu TPI belum senorak sekarang sih. Stasiun yang lain gambarnya naik turun bikin pusing. Tapi sungguhpun begitu, kami sih kadang gak perduli, tetep aja ditonton itu TV yang udah gak waras, daripada gak ada..

Nah malem-malem yang nonton terakhir musti bawa tu TV ke kamar. Tapi gak selalu. Pikiran kita, siapa sih yang mau nyolong TV yang kayak gini? Ternyata ADA…

Pada suatu dini hari jam 3.30 pagi, seperti biasa kami sudah pada bangun dan ngantri wudhu untuk shalat tahajud. Kami pagi-pagi itu biasanya keluar sebentar, cumin wudhu doing. Dingin banget!!! Kawan saya, Mala, seperti biasa setelah subuh dia menyeka mukanya dengan handuk besar yang dia jemur di depan kamarnya. Dini hari itu berlangsung damai.

Saat adzan subuh, beberapa dari kami keluar kamar lagi untuk wudhu lagi. Termasuk Mala. Dia wudhu.. dan ketika akan menyeka mukanya dengan handuk… loh.. Mala menjerit

‘Ada maliiing!!!’

Kita rame-rame keluar.

‘Ada apa Mal?’

‘Maliiiing.. ada mailing..’

Hah! Mana malingnya? Apa yang ilang?

‘Handuk Mala ilaaaaang Al…’

Ehhh! Rada geli kami bingung. Masa sih ada maling nyuri anduk? Anduk bekas pakai? Tau-tau salah satu kawan bilang.

‘Anduk saya juga gak ada.’

LOHHHH!

Aduh!! Handuk saya masih ada gak ya?

Selidik punya selidik, kami menemukan bahwa TV juga hilang. Kami piker-pikir, mungkin dua handuk itu dipakai sang maling untuk membawa TV kabur kali ye… Berarti itu maling muncul pas kita lagi pada shalat masing-masing ya…

Minggu, 19 Oktober 2008

Pindahkan Jadwal Sinetron, Dong..

Pada suatu suatu malam libur saya pulang ke rumah mendapati ruang keluarga kami ramai. Anak-anak laki usia SMP duduk ngobrol menekuri TV. Adik saya and the gank, seperti biasa. Mereka dilarang nongkrong di pinggir jalan oleh orangtua masing-masing, jadinya nongkrongnya di rumah kami. Kebetulan kami di rumah sudah terbiasa ramai banyak anak, jadi jarang merasa terganggu jika anak-anak suka berisik kadang-kadang. Selama tidak berbicara kotor atau kasar dan melakukan hal-hal yang aneh-aneh, terserahlah mereka itu mau gitaran kek, nonton DVD (filmnya dilihat dulu) dan main PS sampai pagi nginep-nginep betebaran dilantai kek, atau ngabisin makanan di kulkas kek, asal malam libur tentu saja. Kadang-kadang suka ada orangtua yang maunya marah-marah kalau anak-anak main ribut, tapi kami berpendapat selama berada di rumah, kongkow-kongkow mereka jauh lebih bisa diawasi dan dikontrol. Kalau marah-marah terus dan gak mau memberi ruang, nanti malah pada gak betah dirumah dan main di tempat lain yang gak jelas gimana hayooo…

Saya geli melihat acara TV yang sedang berlangsung di layar TV, ternyata itu sinetron. Tidak tahan, saya nyeletuk.

Seru banget ini. Malem liburan sekolah anak-anak muda kumpul-kumpul makan pisang rebus sambil nonton sinetron.. hehehe…

Mereka tersontak kaget, lalu malu-malu bilang, ‘seru kan kitaaaaa…’

‘Abis acaranya Cuma ada ini..’ seru adikku. Terusik rupanya jiwa laki-lakinya. Tapi dia benar.

Tepat saat ini saat saya menulis ini, malam kamis jam setengah lapan, di Space Toon stasiun TV anak sedang berlangsung acara pelajaran matematika setingkat kelas dua SD dengan bahasa inggris. Benar-benar detil penjelasannya dari cara, solusi, hingga membuat grafik sederhana. Acara dilanjutkan dengan dongeng untuk anak-anak. Karena saya lebih banyak tinggal serumah dengan rekan guru SD juga, kami jadi sering menonton acara anak-anak khususnya Space Toon. Menurut kami, acara stasiun TV anak ini bagus-bagus sekali. Bahkan iklannya pun bagus-bagus.

Saya memutar tombol TV (rekan serumah saya rada cemberut, lo lagi nulis apa lagi nonton seeh..jangan gangguin orang dong!)

O Channel, Fengsui for Life

Elshinta TV, documenter singkat tentang penarik sampan di pelabuhan

TPI, sinetron

TVRI, berita

Indosiar, sinetron

SCTV, sinetron

ANTV, sitcom

Trans7, award entah apaan tuh

DAAI TV, Orang cina ngomong tentang arti kasih

Trans TV, akhirnya datang juga

RCTI, sinetron

Metro TV, Berita

Pada saat liburan sekolah, beberapa hari saya di rumah seharian menyantroni acara TV. Saya menemukan acara yang cukup bagus. Ada pelajaran bahasa Indonesia dan pelajaran lain di TVRI dan film-film documenter. Itu semua diputar pada pagi hari sekitar pukul 10 sampai 12 siang. Jam setengah satu di trans7 adalah jadwal acara baik sekali bagi anak-anak. Dimulai dari Si Bolang, lalu Surat Sahabat, Jalan Sesama, Laptop si Unyil dan cita-citaku. Kemudian saya kira jelajah atau jejak petualang. Metro TV jadwal film documenter dimulai jam setengah dua siang. Ini adalah acara-acara yang membuat adik saya usia SMP dan kakak-kakaknya melotot menekuri TV dengan senang. Tapi sayang, kami bisa menonton ini semua hanya karena libur sekolah. Hari biasa, tidak dapat tentu karena justru jam-jam ini anak-anak masih di sekolah. Tapi saat libur pun tidak semua anak bisa menikmati ini.

Kemarin nonton si Bolang gak? Seru sekali, anak-anak Sulawesi suka nyari tikus di sawah lalu dibakar dan dimakan.

‘Gak nonton bu.. aku sebenernya suka si Bolang, tapi mamaku mau nonton Ceriwis sih..’

Lebih mementingkan dirinya sendiri daripada perkembangan anaknya. Lebih rela anaknya menonton segerombol orang becanda gak jelas dan kadang nyerempet kasar dan menghina perempuan dengan berdandan bencong yang dikata-katain dan menganggap itu lucu?

Seorang kawan bercerita bahwa kakak iparnya dan anaknya sering bertengkar berebut acara TV. Sang anak mau nonton Space Toon sementara kakak iparnya ingin nonton sinetron. Akhirnya, channel Space Toon itu dihilangkan permanen dari TV mereka. Agar tidak terganggu lagi.

Bagaimana sore hari, saat anak-anak sudah pulang sekolah. Sudah mandi bersih dan santai di depan TV?

Harus diakui, saya kurang ngeh acara TV sore. Tapi kadang saya suka iseng nengok, acaranya berita criminal, sinetron, reality show yang jelas lebay (apalagi itu termehek-mehek lebay banget!!) dan gossip selebriti.

Loh kemana itu acara bagus-bagus? Ilang semua?

Habis maghrib sampai agak malam TV penuh sinetron. Untuk beberapa channel seperti SCTV malahan saya lihat sampai jauh malam terus saja sinetron. Trans TV acara lucu-lucuan ekstravaganza yang menurut saya sama sekali jongkok kualitasnya. Hanya bikin ketawa. Terkadang yang paling saya benci adalah kenapa pelecehan justru dianggap lucu? Saya tidak suka dengan anggota ekstravaganza laki-laki yang sering berdandan perempuan namun menurut saya menjadikan dirinya sendiri bahan tertawaan yang menyerempet pelecehan. Beberapa kali anak-anak laki saya meniru-niru keperempuan-perempuanan hanya untuk diketawain kawan-kawannya. Ini membuat saya marah sekali. Saya tidak tahu apakah ini kekhawatiran yang berlebihan mungkin saja, namun menurut saya ini semua bisa berkembang menjadi suatu nilai tertentu dalam diri mereka. Bahwa perempuan dan sifat-sifatnya yang khas adalah objek pelecehan.

Saya tidak mau mereka seperti itu.

TV one dan Metro TV mungkin adalah dua channel yang hampir bersih dari sinetron, tapi jadwal acara mereka pada jam 7 malam sampai jam 10 dipenuhi acara-acara berita dan perbincangan politik. Sekalinya ada yang ringan, mungkin Republik Mimpi. Itupun sudah tidak lucu lagi dan terlalu banyak mengkritik sana sini tanpa solusi. Inikah acara untuk anak-anak? Sumpah kalau saya punya anak, saya larang dia menonton acara parody politik ini. Saya tidak mau anak saya tumbuh dengan rasa kebencian terhadap pemerintah dan kekecewaan kepada negaranya sendiri.

Bagaimana pada hari sabtu dan minggu?

Lucunya di hari libur yang indah itu di TV justru dari pagi sudah didominasi dengan acara sinetron panjang sampai siang hari.

Apakah acara TV kita bener-benar buruk?

Menurut saya tidak. Saya belum putus asa dengan dunia PerTVan kita walaupun banyak yang sudah. Hanya beberapa stasiun yang konsisten menayangkan acara-acara tidak beguna seperti Televisi PENDIDIKAN Indonesia salah satunya.

Lalu kenapa masyarakat khususnya anak-anak remaja begitu tergila-gila dengan sinetron?

Jelaskan? Karena sinetron dipasang tepat pada saat-saat orang nonton TV. Ini adalah lingkaran setan, sinetron digemari karena orang terbiasa saat menyetel TV yang tersedia adalah sinetron. Dan sinetron dipasang pada jam premimum konon katanya ratingnya tinggi. Tapi rating tinggi juga karena masyarakat tidak diberi pilihan yang lebih baik.

Apakah masyarakat begitu bodohnya hingga tidak mau menonton acara berkualitas?

Menurut saya tidak juga. Tapi tidak semua masyarakat bisa tahan menonton dialog politik, ekonomi, social dan pembahasan sejarah yang serius di TV. Kita ingat saat Ramadhan, terdapat sinetron berjudul Para Pencari Tuhan yang mendapat tanggapan luarbiasa oleh masyarakat. Padahal sinetron PPT tersebut tidak memasang artis-artis cantik atau mengumbar kekayaan. Kita lihat, saat ada pilihan yang lebih baik, masyarakat dengan segera beralih. Di bioskop Indonesia terus berputar film-film yang bertema setan, sex, atau drama sinetron panjang, tapi begitu Laskar Pelangi keluar, toh penontonnya membludak. Apakah yang menonton Laskar pelangi adalah kalangan tertentu pembaca buku? Tidak. Ibu-ibu rumah tangga pun heboh menonton film tersebut ramai-ramai . Saat diberi pilihan yang lebih baik, orang dengan segera beralih.

Saya berpendapat, acara TV kita sudah lebih baik daripada beberapa tahun yang lalu. Tentu dibanding jaman tahun 80-an mungkin masih kurang. Dulu walau stasiun kita Cuma satu, tapi ada acara-acara seperti ACI atau Rumah Masa Depan atau cerdas cermat klopencapir yang nampaknya cukup diminati. Tapi sayang, alokasi waktunya masih kurang tepat. Atau bisa saya katakan, sama sekali kurang tepat. Masih lebih berpikir komersil saja. Memang untuk beberapa kalangan bisa saja menolak TV local dan mengambil acara-acara luar dari indivision, sekali lagi, untuk beberapa kalangan tertentu. Bagi sebagian terbesar masyarakat kita tentu, indovision adalah suatu kemewahan yang tidak terjangkau. Bayar 200 ribu perbulan keluarga saya juga mikir-mikir dulu, dan yang terbayang adalah:

Bayaran sekolah

Bayaran kuliah

Bayar les-les

Anggaran buku-buku sekolah dan kuliah plus plus plus (fotokopi, biaya print makalah de el el)

Ongkos sekolah, ongkos kuliah, uang jajan dan makan siang

Tagihan listrik, telpon plus speedy

Uang makan dan gas

Anggaran obat dan dokter

Bensin dan biaya perawatan kendaraan

Yah..mana kepikiran deh…

Sampai saat ini mungkin yang terpikir adalah jikalau.

Jikalau beberapa stasiun TV yang sudah mulai membuat acara yang bagus-bagus mau lebih banyak berkorban menyediakan beberapa malam khusus untuk acara-acara yang baik dan tidak memikirkan komersial.

Jikalau pemerintah mau tegas (mungkin gak apa sedikit sewenang-wenang) untuk melarang acara-acara ngaco macam 4 mata tayang terlalu sore dan mewajibkan jam 7 sampai jam 10 malam acara khusus edukasi.

Jikalau orang-orang mau mendorong anak-anak mereka menonton acara yang lebih baik alih-alih mementingkan diri sendiri menonton acara tidak berguna dan membuat anak mereka jadi terbiasa dengan itu semua.