Jumat, 16 Oktober 2009

*Sigh*

Jantungku remuk redam..

Anjrit!!

Jumat, 11 September 2009

Maaf

Kemarin, kita maaf-maafan.

Salam-salaman sama semua orang. Anak-anak dan guru. Kali ini, anak-anak duluan. Mereka langsung masuk mobil jemputan.

Guru saling salam-salaman. Saya kira rada kering juga. Kayaknya, rasa jengkel dan marah saya masih juga penuh pada Bu Yuyun. Duh, gustiiii…Tolonglah saya mengendalikan hati ini.

Lalu, Eni memeluk saya. Tanpa diduga nangis tersedu-sedu di pelukan saya. Gak ngomong apa-apa sih, Cuma nangis aja. Tapi saya tau apa yang dikatakannya kepada saya dalam hati.

Sebenernya, sudah lama saya memaafkannya. Saya lebih sakit dengan kenyataan dia tidak bicara dengan saya. Padahal, kan, yang salah bukan saya. Dia yang mengkhianati saya.

Beberapa saat yang lalu, saya untuk pertama kalinya merasakan rasa sakitnya ditusuk dari belakang dengan salah satu sahabat saya sendiri. Teman serumah. Dan bahkan orang yang berbagi kamar dan tempat tidur dengan saya.

Saya tidak tahu kenapa dia jadi begitu keras, dan beku.

Mudah-mudahan ini tanda bahwa keadaan semakin baik. Amin…

Selasa, 01 September 2009

Abang Teroris?

Sudah beberapa bulan emang tukang rujak depan gang gak ada. Saya gak gitu merhatiin. Tapi Kirsan merhatiin. Langganannya sih! Pas udah gak inget lagi, tau-tau Kirsan cerita hal yang bikin saya melongo.

Kirsan: AL, aku punya gosip.. Tentang abang tukang rujak.

Saya: Apa? Dia teroris?

Kirsan: Iya.

Saya: Hah! Apaaaa!

Saya kan Cuma nyeletuk aja mengenai teroris itu, loh kok bener?

Begini menurut ceritanya Kirsan yang berdasarkan ceritanya Abang Tukang Gorengan:

Beberapa bulan yang lalu, datang beberapa orang ke mushalla tempat abang-abang PKL depan gang itu suka leyeh-leyeh ba’da zduhur. Mereka mengajak abang-abang PKL itu ngobrol dan tau-tau bikin pengajian. Yang sering ikutan sih abang tukang gorengan, tukang rujak, tukang parkir, tukang bubur, dan tukang es kelapa. Selain ngaji alqur’an, orang-orang itu juga banyak ngasih CD tentang pembantaian muslim di poso dan sejenis itu. Lalu sering ngasih buku tentang jihad.

Abang tukang gorengan lama-lama males, dan gak ikut pengajian lagi.

Ini adalah percakapan abang-abang PKL tersebut menurut kisah abang tukang gorengan:

Abang tukang rujak: Ayo kita jihad. Demi Islam. Islam sedang dianiaya.

Abang tukanggorengan: Saya terus terang aja, gak boleh sama orangtua saya. Adik-adik saya masih banyak masih sekolah. Abang ajalah.

Abang tukang bubur: Kalo saya mah, sudah tua. Bukan saatnya lagi. Yang muda-muda sajalah.

Nah, menghilanglah abang tukang rujak dan abang tukang parkir. Beberapa minggu kemudian, kabarnya, kontrakan abang tukang rujak itu digrebek polisi. Di dalam kontrakannya penuh buku-buku dan film tentang jihad.

Mendengar cerita ini, saya sedih. Saya tahu abang-abang PKL depan sekolahan itu. Mereka orang-orang baik. Orang-orang muda yang saya yakin, masih punya kepedulian yang besar terhadap sekitar. Dan keterbatasan mereka itu, dimanfaatkan pihak lain. Bayangin ajalah, usia muda, punya kepedulian dan keinginan berbuat sesuatu, ilmu yang kurang. Perfect. Dan siapa yang tidak berkobar dengan kemarahan jika dirasuki terus menerus kisah-kisah sepihak tentang bagaimana umat Islam sedang disakiti, dijejeli film-film yang berisis adegan umat islam sedang dibantai tanpa ada pemahaman mengenai konflik tersebut.

Selasa, 25 Agustus 2009

Keputusan yang Mengecewakan

Hari ini, saya memberikan jawaban terakhir. Sebenarnya kemarin, lebih cepat satu hari dari batas waktu yang diberikan. Namun ternyata, jawaban saya tidak diterima. Yayasan tetap meminta saya mempertimbangkan kembali. Jadi hari ini saya kembali, dengan tidak bergeming. Tetap pada keputusan saya. Dengan berbagai pertimbangan tentu saja. Insya Allah, ini terbaik. Bagi saya, dan semuanya.

Saya tahu, yayasan kecewa. Mereka tidak menyembunyikannya. Masih juga meminta saya mempertimbangkan lagi. Tapi mau sampai kapan kita dalam ketidak pastian seperti ini. Waktu terus berjalan, dan bangku kosong itu harus ada yang mengisi. Secepatnya.

Saya mengerti diri saya dengan baik. Saya tahu, bahwa saya tidak memiliki kemampuan memimpin yang baik. Atau paling tidak, saya masih kurang pengalaman. Terlalu muda. Tidak memiliki kualifikasi akademis yang memenuhi.

Yah, kalau masalah kualifikasi akademis, dari dulu juga memang belum sampai, kata ketua yayasan. Jadi guru pun saya tidak memenuhi kualifikasi. Tapi kan kita mengamati, menilai, dan yakin bahwa Bu Alifia punya potensi yang besar. Masalah pendidikan, gampanglah. Kalau perlu, sekarang juga deh, kita ke UNJ. Daftar kuliah.

Saya tetap bertahan. Saya tahu, saya masih terlalu kecil. Keciiil sekali.

Ibu Cuma gak punya nyali.

Saya menghela nafas. Ya, mungkin itu yang belum ada pada diri saya. Nyali.

Keputusan terakhir?

Keputusan terakhir.

Kembali ke sekolah, saya masih terus memikirkannya. Berjam-jam setelah guru-guru pulang, saya pun masih ada di sekolah. Sebenarnya, males pulang saja.. Nunggu senja. Sambil browsing bahan ajar. Beberapa guru masih berada di sekolah. Sama. Nunggu senja.

’Gimana, keputusanya?’

Saya menggeleng. Tidak, kata saya. Toh masih ada calon lain selain saya, kan?

‘Tapi kan kamu yang disetujui oleh semua pihak di yayasan.’

Ya, saya tahu. Saya juga tahu, alasan paling kuat kenapa saya yang terus dikejar-kejar karena, saya tidak ada yang menyatakan tidak setuju.

‘Walaupun aku gak bisa ngebayangin kamu nanti mimpin kita, kayaknya aneh banget gitu orang yang paling ngocol. Tapi kita kan ngedukung kamu, Al.’

Kita?

‘Semua guru kan ngedukungnya kamu, Al. Kenapa sih kamu malah menolak.’

Saya tahu, nama yang ini, pro dan kontra. Yang itu, pro dan kontra. Saya satu-satunya yang nampaknya, semua setuju. Semua mendukung.

Lalu saya tidak mau.

Apakah saya egois?

Mungkin.. Sama saat saya mencampakkan pekerjaan saya yang dulu, yang membanggakan ibu saya, yang memberikan penghasilan besar, dan memilih menjadi guru SD Swasta yang tidak punya nama, yang bukan unggulan, yang sering dilihat sebelah mata, di pinggiran ibu kota. Hanya karena saya merasa lebih bahagia, lebih berguna, dan lebih hidup, dibanding dulu. Semuanya adalah saya. Saya.. Saya…

Egois!

Well, saya sudah memberi keputusan terakhir. Mungkin mengecewakan, maaf. Kalau mau bilang saya pengecut juga gak apa-apa.

Sampai beberapa saat nanti, saya masih menjabat sementara. Dan saya janji, tidak akan melarikan diri. Disini, mendampingi segala turbulensi yang mungkin akan berlanjut, sampai beberapa saat nanti. Saya yakin, kok. Badai ini akan segera berakhir. Lagipula, ini kan bukan pertama kalinya.

Jumat, 07 Agustus 2009

Kasek

Kepala sekolah? Saya?

Gila apa?

Kamis, 18 Juni 2009

Dokter Dokter

Ini gara-gara baca tulisan dari Bu Dokter yang paling cantik sedunia (Orc paling cantik sedunia lebih tepatnya sih..).

Saya paling males yang namanya ke RS dan ketemu dokter. Dulu pernah ada pengalaman buruk saat kecil saya sakit kulit AKA korengan. Karena gak sembuh-sembuh, dirujuklah ke RS dari puskesmas langganan. Nah, saya yang masih kecil itu dan terbiasa kalau sakit perginya ke puskesmas yang seadanya, agak pangling tau-tau musti ke RS yang bersihnya amit-amit dan bau obat. Belum habis rasa khawatir, tau-tau dipanggilah ke ruang periksa. SENDIRIAN. Maksudnya, Cuma sama ibu saya doang. Biasanya di puskesmas, yang namanya ruang periksa itu penuh orang. 10 pasien masuk bersama-sama dengan yang mengantar sekaligus rombongan. Termasuk para ibu yang bawa-bawa adik kecil yang gak bisa ditinggal di rumah. Dokternya tersenyum ramaaaaaah sekali.

Mengerikan!! Senyumnya begitu lebar! Saya jadi merasa berbuat salah.

Nah, ternyata, dalam ruang periksa itu dokternya bukan hanya satu, tapi rame! Banyak sekali! Mungkin ada sepuluh. Mereka semua merubungi saya, senyum, lalu membicarakan saya. Beberapa tahun kemudian saya baru tahu kalau rombongan yang ngelilingin saya itu adalah mahasiswa.

Pengalaman itu bikin saya rada trauma. Bayangin aja, saya yang masih kecil, tau-tau dikelilingi orang-orang berbaju putih yang semuanya senyum kompakan kepada saya, gantian mengambil tangan saya, mengamati, lalu berebut ngomong membicarakan saya!

Itulah kenapa saya, bahkan sampai sekarang, paling ogah kalau disuruh ke RS.

Mungkin sebagai pertimbangan kalau pasiennya anak kecil, jangan dijadikan objek observasi, yaaa… Please!

Di puskesmas, pada masa saya kecil, itu memang keadaannya masih jauh dari yang sekarang. Kalau sekarang, puskesmas udah bagus-bagus. Dulu hanyalah suatu tempat berlantai satu yang selalu penuh orang sakit. Kadang, sampai duduk sekenanya di lantai-lantai yang dingin. Muka-muka pucat meringis. Batuk-batuk pilek sampai menggigil. Paling luarbiasa adalah antri. Antri-antri itu adalah:

  1. Antri daftar.
  2. Antri diperiksa.
  3. Antri disuntik (kalau perlu disuntik)
  4. Antri ambil obat.

Dan bagi orang-orang berkartu hijau, yang artinya adalah penyandang askes yang hampir gak bayar seperti saya ini, antri-antri ini jauh lebih panjang daripada orang-orang berkartu putih yang bayar penuh.

Satu hal yang saya ingat, dokter di puskesmas, jarang sekali terlihat wajahnya. Ya mungkin karena terlampau berjubelnya orang datang dengan keluhan yang itu-itu saja sehingga para dokter ini hanya butuh mengambil kartu catatan, lalu bergumam..iya..iyaa.. Sang pasien bilang-bilang. Dokter tulis-tulis. Lalu sudah. Kita diminta dengan hoormat segera pergi untuk memberi kesempatan pasien yang selanjutnya. Ini waktu jaman saya kecil, loh! Sekarang, sudah perhatian dokternya.

Tapi, bahkan saat saya kecil dimana keadaan masih begitu sulit dan pelayanan seadanya kurang mendapat perhatian pemerintah pun, satu hal yang saya ingat adalah, bu saya selalu tersenyum lega saat melihat mobil jeep putih datang dan parkir di halaman psukesmas yang sempit. Mobil itu milik seorang dokter perempuan yang ramah. Tidak terganggu dengan bejibunnya pasien yang keluhannya itu-itu aja—penyakit orang miskin—beliau selalu ramah menyapa, benar-benar melihat dan mendengarkan setiap keluhan, dan memberi nasihat. Itulah kenapa pada hari beliau datang, selalu orang menumpuk sampai ke lantai-lantai. Mungkin karena orang-orang lain pun seperti ibu saya, menunggunya. Atau karena beliau tidak memeriksa pasien dengan kecepatan sedahsyat dokter yang lain.

Saya tidak tahu nama beliau apalagi wajahnya pun nasihatnya kepada saya, tapi saya mengenangnya. Merasakan juga kesedihan ibu saya ketika suatu hari, beliau tidak pernah datang lagi ke puskesmas langganan saya. Beliau dimutasi ke tempat lain.

Pengalaman lucu adalah sewaktu kuliah. Mendadak kita satu kostan terserang gatal-gatal yang menimbulkan bentol kecil-kecil, lalu akan pecah jadi lecet merah. Perih sekali. Kebanyakan terkena di wajah. Kita curiga bahwa ini akibat dari gigitan serangga-serangga kecil yang memang banyak terdapat di lingkungan kita. Karena kompakan kena semua, kita pergilah semuanya rame-rame ke klinik kampus. Karena ada sesuatu yang mendesak, saya urung pergi rame-rame hari itu.

Kembali ke kostan, tanya-tanyalah saya kata dokter apa. Dikasih obat apa.

Rekan-rekan saya itu malah ketawa-tawa. Selain obat, ternyata dokter memberi perintah pada kita semua yaitu KERJA BAKTI.

Loh, kok, gitu.

‘Iya soalnya dokternya heran, ini kok satu rombongan keluhannya sama. Ternyata kita satu kostan. Trus dokternya bilang gini: wah, pasti ini karena kalian jorok. Makanya serangga-serangga pada betah di kostan kita.’

‘Trus, kita disuruh kerja bakti.’

Hallah!!!

Sang dokter, menurut kawan-kawan saya itu, malah sempat mengancam akan inspeksi ke kostan kita untuk membukatikan apakah kita sudah membersihkan dengan baik atau belum. Berhubung kostan kita hanya beberapa langkah dari kampus, kontan kita ngeri juga kalau tu dokter tau-tau iseng bener-bener dateng. Lah, orang deket! Jadilah kita kerja bakti rame-rame. Dokternya sih gak pernah dateng. Tapi itu kisah yang lucu dan patut untuk dikenang, heheh…

Masih masa kuliah, saya pernah jadi dokter gadungan. Pas KKN. Ketika tiba-tiba seorang bapak-bapak menghampiri saya dan rekan-rekan, memanggil, ‘Dokter’

Heh?

Kita lagi asik lari pagi dan belum mandi. Gak peru diberi tahulah pasti dandanan saya dan teman-teman awut-awutan dan bau keringet. Atas dasar apa tu bapak manggil kita dokter.

‘Ini dokter, anak saya gatel-gatel.’

Nengok-nengok. Kita doronglah rekan yang paling ganteng yang tampangnya paling mendekati dokter. Bersihan gitu.

‘Saya bukan dokter, pak. Saya mahasiswa.’

‘Iya, lagi dinas disini, kan? Kemaren kan di posyandu.’

Hah, di posyandu? Posyandu yang mana?

Karena bapak itu ngotot curhat, kita bawalah ke sekre. Rekan-rekan saya langsung kasih CTM.

Saat itu, kita belum mendengar bahwa ada rombongan KKN di kecamatan lain mengadakan penyuluhan yang gagal. Maksudnya mau menyuntik nutrisi untuk ternak, eh, ternaknya mati semua. Agak bikin kasus yang memalukan juga itu. Tapi saat itu kita belum mendengar kabarnya. Maka kita kasihlah itu CTM lengkap dengan peringatan: 3 kali sehari ya pak. Kalau udah gak gatel-gatel, jangan diminum lagi.

Kenapa bapak itu nyangka kita dokter? Kita kira, mungkin karena dosen pembimbing kita emang dosen FK yang notabene, dokter. Beliau kan nungul waktu kenal-kenalan pertama kali.

Sejak itu sering ada orang datang mengeluh sakit. Waduh, ruwet juga. Dijelasin berkali-kali kalau kita bukan dokter kok kayaknya gak mau denger. Ada mahasiswa peternakan yang belajar dikit tentang penyakit, tapi kan itu penyakit hewan yaaa..

Beberapa hari kemudian, dosen kita datang menjenguk. Barulah kita tahu bahwa memang ada rombongan KKN lain di desa yang sama ini dari FK. Jurusan keperawatan. Nah, mereka itu yang rame-rame ikut meramaikan posyandu tempo hari. Kita gak pernah ketemu, karena mereka berdomisili di dusun yang berbeda. Dusun yang paling jauh letaknya di desa. Sementara kita pun lebih banyak menghabiskan waktu di sawah.

‘Rekan-rekan kalian yang dari FK itu banyak keluhannya. Saya juga sebetulnya ingin jenguk mereka, sih. Cuma dusun tetangga, kan? Kalian bisa anter?’

Kami menelan ludah.

Emang sih, Cuma dusun tetangga. Tapi jauhnya amit-amit. Dan, kayaknya Bu Dosen belum pernah ke sono deh!

‘Bagaimana kalau kita makan dulu, bu?’

‘Biar ada tenaganya.’

Bu Dosen mulai curiga saat melihat kita nyiap-nyiapin ransel dan air minum yang lumayan.

‘Jauh, ya tempatnya?

Yaa, kalau kata anak-anak SD yang dari dusun itu sekolah disini sih gak jauh bu. Tapi bagi kita sih, lumayan banget. Jalannya menanjak terus.

‘Haduh..Gak ada kendaraan ke sana?’

Wah, kita gak tau bu.

Awal perjalanan yang masih datar, sempat ngobrol dan cerita-cerita. Kebanyakan curhat kesulitan kita di desa. Lalu mulailah masuk lembah, lewati sawah, sungai, najak, nanjak, nanjak, nanjak….jauuuuh…sawah lagi…NANJAK

Sampai di balai dusun, kita sudah disambut tim KKN FK yang senyum-senyum penuh arti melihat kita, AKHIRNYA, tiba dengan ngos-ngos-san.

Rekan-rekan tim KKN saya yang kebanyakan anak-anak pertanian dan peternakan yang notabene orang lapangan masih asik-asik aja. Begitu tiba, udah bisa saling kenalan dan salaman.

Saya dan seorang teman yang sama-sama dari Fakultas Komunikasi udah klepek-klepek.

Dosen kami paling belakang setengah tepar.

‘Saya huh..huh..huhh.. ‘dosen kita. ‘Mau pingsan dulu, yaa..’

‘Ya Dokter jangan pingsan dulu,’ seru seorang mahasiswa FK. ‘Ini kepala desa sama perangkat desa mau beramah tamah.’

Tapi, disitulah akhirnya penduduk mau mengerti bahwa walaupun pakai jas almamater yang sama, kita wilayahnya beda-beda. Rombongan yang satu memang mengurusi masalah kesehatan, sementara tim yang satu lagi, yaitu saya dan rekan-rekan, akan mengurusi masalah-masalah yang berkaitan dengan pertanian, peternakan, dan pendidikan.

Maka secara resmi, berakhir pula karir dadakan kita sebagai dokter gadunga

Jumat, 24 April 2009

Saya Gak Layak Jadi Guru

Pendidikannya. Jelas. Paling tidak, menurut pemerintah seperti itu.

Adalah seorang perempuan, datang ke sekolah kami melamar kerja menjadi guru. Kami semua sepakat, dia adalah seorang guru yang baik. Hasil tes tertulis, tes komputer, dan performanya saat microteaching memperlihatkan hal itu. Dia tidak hanya berhasil membuat pelajaran paling dibenci anak-anak, yaitu matematika, menjadi terasa menyenangkan dan mudah, tapi juga berusaha mengenal anak-anak. Paling tidak, dia berusaha untuk itu. Baginya, anak-anak yang didepannya ini bukan segerombol anak kecil yang musti nurut apapun yang dia katakan, tapi individu-individu unik yang dia coba pahami. Berbeda dengan calon-calon guru yang lain yang kebanyakan jaim saat microteaching, dia tidak segan menegur dan bersikap tegas, tapi juga mau tertawa dan mengajak bicara dengan ramah.

Dan segala kekacauan yang terjadi, yang adalah ‘rencana busuk’ kami yang kami minta anak-anak untuk bekerja sama, sang calon guru ini tidak terlihat kehabisan akal. Kebingungan sebentar memang, tapi tidak menyerah dan terus berusaha.

Sayangnya, dia tidak dapat kami terima sebagai guru SD. Alasannya. Sedehana saja. Dia dianggap tidak dapat memenuhi syarat sebagai guru SD karena dia berijazah D3, pun tanpa akta.

Menyesakkan bukan?

Rekan-rekan saya membicarakan itu berhari-hari. Dan saya hanya duduk di pojokan, mendengarkan. Kalau masalah-masalah yang seperti ini, saya suka jadi merasa agak sensitip heheh..

Itu beberapa saat sebelum anak-anak libur. Kemarin, saya kembali diingatkan bahwa saya belum layak menyandang status guru.

Adalah seorang guru TK. Dia agak bermasalah. Yah, sebenarnya, dia banyak bermasalah. Tahun ajaran ini, keputusan yayasan adalah bahwa yang bersangkutan dipindah. Dari tadinya guru, menjadi staff admin yayasan. Mari kita tidak perpanjang apa masalah dan bagaimana, toh saya tidak akan membicarakannya. Yang pasti, dia merasa kecewa dan marah sekali.

Entah muka saya ini mengisyaratkan apa tapi saya selalu ketiban curhat. Padahal saya sendiri gak akrab dengannya.

Sepanjang hari, saya berusaha menenangkannya. Sebenernya, saya tahu lebih banyak daripadanya tentangnya. Atau apa-apa yang disembunyikannya. Tapi saya pun tidak membahasnya. Saya hanya berusaha untuk membesarkan hatinya.

Kami bicara-bicara.

Saya menyatakan sayang dia harus berada di balik meja, sebab dia adalah guru yang cerdas. Dia berkata, iya, kenapa bukan kamu (saya, red) aja yang ditarik jadi staff. Kamu kan gak punya akta 4.

Saya terdiam. Dia mungkin tidak sadar bahwa dia, menembus dada saya tepat di wilayah paling sensitif.

Kenapa bukan kamu aja yang ditarik jadi staff. Kamu kan gak punya akta 4.

Yang terngiang-ngiang di telinga saya adalah:

Kamu gak pantes jadi guru.

Kamu gak layak jadi guru.

Saya gak layak jadi guru