Selasa, 07 April 2009

Ibu Ibu Kontrakan

Di depan mess kami, adalah rumah-rumah kontrakan Petak-petak gitu. Dihuni oleh pasangan suami istri muda.Sang suami kebanyakan para satpam di beberapa perumahan mewah sekitar sini sementara para istri adalah ibu-ibu rumah tangga dengan anak-anak balita.

Hidup di kontrakan, terkadang begitu ribet. Paling tidak, dari kisah-kisah yang suka dikeluhkan oleh Bu Lulu dan Bu Lyn, kesannya seperti itu. Selalu ada pertengkaran kecil, dari apa-apa yang sebenernya hanya masalah sepele. Saya kira, kebanyakan selalu adalah rasa iri hati. Atau keinginan selalu ingin merasa lebih, dari masing-masing.

Saya dan Eni, teman serumah saya, selalu kurang waktu untuk bergaul dengan tetangga depan rumah itu. Maklum, berangkat pagi pulang hampir maghrib. Kalau libur pun, kami pulang ke rumah orangtua masing-masing. Tapi salah satu penghuni kontrakan berkawan baik dengan rekan satu rumah saya. Dia adalah satu-satunya penghuni yang masih single, dan sama-sama bekerja dengan Eni di tempat les yang sama. Guru SD juga seperti kami, di sekolah yang berbeda. Jauh lebih sibuk dari kami karena selain mengajar di sekolah national plus, dan juga mengajar les, dia juga sedang sibuk mengambil kuliah S2.

Akhir-akhir ini, dia sering datang. Duduk bersama kami di halaman belakang.

Curhat.

Awalnya mulanya, saya kira, karena dia terlalu permisif. Kepada ibu-ibu itu. Maksud saya, apakah dia begitu baik sampai memperbolehkan barang-barangnya dipakai oleh ibu-ibu sekitar rumahnya seenak mereka? Pertama, saat-saat dia ada di rumah. Hanya menitip-nitip di kulkasnya. Itu biasa. Tapi akhirnya, semua ibu-ibu ikutan menitip-nitip. Bingung saya. Lah, itu jadinya kulkas bersama ya?

Lalu, ikut pakai mesin cuci. Dan terkadang saat dia pergi berhari-hari, tetangganya boleh pinjam motor. Karena dia jarang di rumah, jadilah para tetangga itu punya kunci cadangan masuk ke kontrakannya.

Saya dan Eni menganggap itu sudah keterlaluan.

Baginya, itu gak masalah. Sebab ibu-ibu itu sering membantunya mengangkatkan cuciannya jika hujan turun tiba-tiba. Atau rela mengepelkan teras depan rumahnya.

Lama-lama, jadi tambah. Beberapa kali dia menemukan di rumahnya yang kecil itu, terlalu banyak orang. Anak-anak tetangga menonton indovision. Atau dengan asik main game di komputer. Dia jadi tidak enak meminta mereka pergi. Tapi toh, dia yang selalu pulang dalam keadaan capek setelah bekerja dan kuliah, inginnya tentu tiba di rumah dengan tenang. Bukan di rusuh anak-anak tetangga.

Mulailah dia membatasi akses tetangga-tetangganya itu ke rumahnya.

Para tetangga, yang selama ini begitu dienakan dengan segala fasilitas yang ada, nampaknya sudah lupa bahwa itu adalah kebaikan seseorang. Dan bukan hak mereka.

Dengan diam-diam tapi terasa, para tetangga ini mulai dingin kepadanya. Mengatainnya pelit.

Sampai suatu ketika, yang entah dari mana, muncul desas-desus tidak enak. Tentang dia. Entahlah apakah begitu aneh seorang perempuan berusia pertengahan 30-an melajang? Dan (terlalu) mandiri? Atau karena dia tidak pernah disambangi laki-laki? Tapi memang dia tidak pernah ditamui siapa-siapa selain kadang memang ada salah satu rekan kerjanya perempuan menginap. Tapi toh itu tidak membuktikan apapun.

Tapi pemilik kontrakan jadi resah. Sang pemilik sebetulnya tidak masalah dengannya. Toh dia penyewa rumah yang tidak merepotkan, bayar tepat waktu, bahkan sebenarnya, bayar lebih dari yang lain. Karena alasan di rumahnya banyak barang-barang yang menyedot energi. Walaupun barang-barang itu jarang dipakainya sendiri. Tapi dia tidak mempermasalahkan itu.

Namun, desakan ibu-ibu kontrakan tambah besar. Sang pemilik kontrakan memintanya mencari tempat lain bulan depan. Kejadian itu hampir satu bulan yang lalu.

Dia bingung, mau pindah kemana? Pindah rumah adalah hal yang paling tak terpikirkan olehnya yang terlalu sibuk ini. Siapa sih yang punya waktu untuk nyari-nyari kontrakan segala. Kontrakan mungkin banyak, tapi kan susah untuk mencari tempat yang tepat.

Saya dan Eni menawarkan untuk bersedia jadi tempat mengungsi sementara. Selama dia belum menemukan tempat yang baru. Sedih kami. Biar tidak mengajar di tempat yang sama, tapi sebagai sesama guru, bagi kami, dia adalah rekan. Lagian, masih ada beberapa kamar kosong disini. Pun saya dan Eni, terkadang merasa terlalu sepi untuk tinggal berdua saja.

Tidak, katanya. Dia tidak mau kita berdua ikut keseret-seret gosip gak enak.

Bener juga sih.

Saya berusaha meyakinkannya bahwa itu tidak akan terjadi.

‘Tapi ini kan bukan rumah kalian. Ini fasilitas sekolah. Bagaimana cara kalian menjelaskan pada sekolah bahwa ada orang lain tinggal disini dan itu bukan keluarga. Guru di sekolah lain, pula. Walaupun mungkin Cuma sebentar.’

Iya, juga, ya…

Dan Minggu sore, saya menatap rumah kontrakannya dengan termangu. Gelap dan kosong.

‘Kemarin dia pindah.’ Kata Eni. ‘Yang punya kontrakan bilang, rumahnya mau dipakai keponakannya. Jadi dia disuruh pindah kemaren juga.Dia telpon gue, AL. Nangis. Gak tau mau kemana.’

Lah, terus? Gimana?

‘Yaa, makanya gue langsung ke sini. Kita keliling cari kontrakan. Alhamdulillah di tempatnya Lulu ada kontrakan yang kosong dan dia bisa langsung pindah.’

Dia disuruh pindah saat itu juga?

Hati saya mencelos.

Dan kita tinggal di Indonesia. Masyarakat yang paling murah senyum, ramah, dan baik hati.

Anteknya KPU

Membaca, mendengar, dan menoton berbagai kericuhan kecil pada pemilu kali ini, saya tersenyum-senyum sendiri. Apalagi saat saya menonton berita tentang kerusuhan perhitungan suara PPK. Kenapa? Karena saya mengingat masa lalu, pada tahun 2004, ketika saya sedikit banyak terlibat dalam kegiatan pemilu.

Pemilu 2004, saya adalah salah seorang relawan Data Entry pemilu di kecamatan.

Seperti banyak kegiatan yang saya ikuti saat kuliah dulu, itu kebanyakan adalah faktor ikut-ikutan. Saya masuk organisasi mahasiswa luar kampus karena ikut-ikutan, dan tidak disangka sekarang saya adalah salah satu alumni yang diangap aktif. Lah iya, orang saya sampai pernah jadi pengurus cabang dan sempat dikirim ikut kongres, hehehe…Begitu juga keterlibatan saya sebagai relawan, ikut-ikutan saja. Karena kawan-kawan baik saya mendaftar, saya ikut daftar. Daripada sendirian di kostan.

Rapat-rapat, dibagi-bagi kelompok. Satu kelompok terdiri dari 4 orang mahasiswa dan bertugas di satu kecamatan. Sepertinya ringan. Kami hanya musti mengirim data hasil perhtungan setiap TPS di satu kecamatan kepada KPU pusat lewat internet. Weleh! Gampang bener! Saking merasa gampangnya, saat pengarahan di KPUD, saya dan beberapa kawan malah seliweran kesana dan kemari. Senanglah saat pengarahan itu. Datang dijemput pakai angkot sewaan, dapet sekotak kue, seliweran gak jelas, dipanggil foto, dibagi makan siang, seliweran lagi, pulang dapet uang jalan plus kartu tanda relawan pemilu dengan cap mentereng KPU.

Edun!!!

Jadilah pada tahun 2004 saya punya 3 kartu pemilih yang semuanya resmi. Satu dari RT saya di Jakarta, satu dari RT saya di Jatinangor, yang satu lagi adalah dari salah satu kecamatan di kabupaten Sumedang tempat saya akan bertugas. Tapi saya warga negara yang jujur, nyoblosnya hanya satu kali di Jatinangor. Lagian, itu juga pusing mau milih apa.

Kejadian yang aneh, menyebalkan, tapi lucu adalah saya dan kawan-kawan yang sudah siap berangkat ke kecamatan tujuan datang begitu pagi di TPS setempat. Karena kami punya alasan, bahwa harus langsung berangkat, plus girang menunjukkan kartu KPU itu, jadilah kami diperbolehkan menyelak barisan dan menyoblos paling dulu. Tapi ketika sampai pada tahap akhir, yaitu bagian mecelup jari, KPPSnya dengan melas bilang:

‘Gak usah ya.. Takut tintanya gak cukup.’

Lah… Gak asik sekali sih! Saya kan udah nyoblos, masa gak dikasih tanda tinta. Gak berasa ah!!!

Berangkat ke kecamatan yang dituju, saya nekat bawa-bawa dua Hamster peliharaan. Habis, gak ada orang di kostan. Saat saya balik jangan-jangan mereka mati. Manalah saya tahu bahwa ternyata kecamatan yang dituju itu jauh sekali, melewati gunung. Akhirnya, Hamster saya mati juga di jalanan.

Pelajaran pertama jadi relawan pemilu: Jangan bawa-bawa binatang peliharaan.

Tim saya terdiri dari 4 orang, dua laki-laki dan dua perempuan. Tiba di kecamatan sudah menjelang sore. Beramah tamah sebentar dengan pak camat, kami disediakan sebuah rumah untuk beristirahat. Senang sekali! Tidak disangka ternyata rumah yang nyaman itu pada akhirnya tidak sempat kami nikmati sama sekali.

Membereskan kantor kecil tempat kami akan bertugas, mengecek jaringan, dan segala-gala masalah teknis, sampai menjelang maghrib masih santai. Belum ada laporan dari TPS manapun. Karena bengong, tidak ada TV dan radio kecuali radio ORARI yang hanya diperuntukkan kami para relawan saling berkomunikasi satu sama lain dan dengan KPUD, akhirnya kami jalan-jalan bersama PPK yang akan berkeliling mengawasi jalannya perhitungan suara di TPS-TPS setempat.

Berada di suatu kecamatan di Sumedang di balik gunung tanpa sinyal HP dan TV, rasanya jadi gelap gulita. Mampir di TPS-TPS, melongok sebentar. Karena saya orangnya suka bercanda, maka saat perhitungan itu dengan pecicilan terlonjak-lonjak: Hore GOLKAR menang!

Sebenarnya, saya bukan simpatisan GOLKAR, tapi itu cuma bercanda saja. Cukup untuk membuat salah satu PPK melotot dan memperingatkan saya: Kamu bawa nama KPU, jangan terlihat tidak independen!

Saya terdiam. Kawan-kawan tim yang sudah mengenal saya cekikikan.

Pelajaran kedua jadi relawan pemilu: jangan pecicilan.

Kembali ke kantor, rapat koordinasi sebentar dengan PPK. Kami sekali lagi diperingatkan bahwa apapun yang terjadi, tidak boleh ada kesalahan. Sebab data yang sudah terkirim, tidak dapat dianulir lagi atau dikirim ulang. Sekali kirim, sudah! Langsung tercatat di KPU pusat dan tidak ada satupun yang dapat mengubahnya. Yah, kecuali kalau di hacker. Dan yang bertanggung jawab, adalah kami. Nama kami tercatat di setiap data yang terkirim. Jadi kalau ada kesalahan, maka kami bisa terancam hukuman kurung penjara dengan tuduhan yang sangat keren: BERUSAHA MENGGAGALKAN PEMILU.

Busyet!

Dan mimpi buruk dimulai.

Well, saat itu rasanya mimpi buruk, sekarang jadi kenangan yang indah juga heheh..

Okeh, pengiriman data melalui internet, tapi bukan berarti internet terbuka setiap saat. Dikhawatirkan akan jebol di pusat, maka di seluruh wilayah nusantara ini berlaku sistem buka-tutup. Pulau jawa baru terbuka jaringannya tepat pada pukul 9 malam dan ditutup pukul 2 pagi, baru nanti akan terbuka lagi pada pukul 11 pagi sampai pukul 2 siang. Begitu seterusnya. Jadi, walaupun sudah mendapat laporan dari beberapa TPS, kami masih santai ngopi-ngopi. Tidak tahu bahwa kesulitan pertama sudah terjadi.

Jam 9, semua komputer kami nyalakan. TERNYATA! Kami langsung kena blokir. Tercatat bahwa kami telah mencoba mengakses tanpa izin. GILA! Selidik punya selidik, ternyata salah satu pegawai kecamatan yang sok pinter IT berusaha untuk mengakses komputer kami. PADAHAL komputer itu dilindungi pasword yang hanya kami berempat yang boleh memegangnya. Tapi karena orang itu PINTER IT, dia berusaha masuk. Jadilah terblokir secara otomatis. SIAL! Ngeri sekali bakal masuk penjara, kami kelabakan menghubungi KPUD lewat ORARI meminta saran harus bagaimana. Dimarahilah kami karena meninggalkan kantor kosong sama sekali. Satu jam kemudian, KPUD memberi perintah: hapus dan instal ulang semuanya.

Dan kami pun harus mengulangi pekerjaan dari awal lagi.

Seandainya kami tahu, kami tidak akan mengizinkan KPPS yang memberi laporan langsung pulang begitu saja, karena dari 5 TPS yang masuk pertama kali malam itu, seratus persen tidak dapat dikirim ke KPU pusat karena terjadi kesalahan. Semuanya kertas tidak sinkron antara jumlah suara sah, tidak sah, dan jumlah pemilih. Bahkan, dalam perhitungan per partai pun banyak terdapat kesalahan-kesalahan jumlah. Sedangkan program KPU secara otomatis menolak jika data yang tercatat tidak singkron satu sama lain. Weits! Jangan langsung curiga bahwa itu adalah ‘permainan’ sebab kesalahan ini benar-benar merata tersebar di setiap partai. Semua yang mempelajarinya akan tahu bahwa ini soal ketelitian, atau kesalahan presepsi saat perhitungan suara saja. Tapi tugas kami adalah mencatat dan mengirim data sesuai dengan formulir, tidak boleh berbeda. Jadilah kami sibuk menghubungi balik TPS untuk mengembalikannya lagi sampai datanya benar. Sudah lewat tengah malam dan kami tahu KPPS pun sudah begitu terlihat letih setelah bekerja sejak beberapa hari sebelumnya, tapi toh memang seharusnya begitu.

Dan berulang-ulang. Sekitar 70 persen laporan yang kami terima, itu harus dikembalikan ulang karena terjadi kesalahan. Ini kerja berat. KPPS sudah begitu letih sampai pagi membuat laporan kemudian dikembalikan lagi karena datanya tidak sinkron. Anda tahu setiap lembar kertas suara tahun 2004 begitu ngejelimet dan apalagi itu baru pertama kali. Tidak heran jika terjadi kesalahan tentu saja. Janganlah pikirkan yang di kota saja, kami bertugas di desa. Pusinglah KPPS desa tersebut yang mana selain ribet dengan model pemilu yang baru, juga harus jauh-jauh naik motor mengantarkan laporan ke kecamatan. Ada yang sampai seperti Ninja Hatori: mendaki gunung lewati lembah…Tapi, yang saya hargai, dan ini memudahkan kami, KPPS di desa adalah orang-orang yang ramah. Lah, iya, orang desa di Jawa Barat sih. Mereka, dengan mata yang kuyu dan keletihan, tetap tersenyum dan bahkan berterimakasih karena telah diberi tahu kesalahannya (misalnya: harusnya 152 ditulis 15). Kisah-kisah yang kami terima dari rekan-rekan yang bertugas di kecamatan di kota lain, mereka dimarahi, bahkan dibentak-bentak oleh KPPS. Ada yang kemudian menolak untuk mengirim lagi. Dan bahkan, salah satu tim musti bekerja berlarut-larut lewat satu minggu, siang dan malam, karena selain KPPSnya pada ngeyel, ketua PPKnya tidak mau menandatangani laporan yang masuk. Maklum, ketua PPKnya ternyata adalah simpatisan salah satu partai tertentu yang banyak merasa dicurangi. Sepertinya, dia melampiaskan kekesalannya kepada rekan-rekan kami.

Selama 4 hari penuh, hampir tidak tidur, mencatat, mengoreksi, mengirim. Nyaris tidak keluar kantor kecuali makan yang serabutan. Tidur pun diatas kardus-kardus komputer berkubang kertas. Bukan hanya saya, satu rekan saya yang juga perempuan pun akhirnya dengan santai tidur mangap diantara kardus atau di lantai selama beberapa jam tidak perduli KPPS dan pengawas dari KPUD datang dan pergi menonton kami yang bekerja segala gaya. Ngng..kami mandi gak yah? Mandi sih, kalau inget. Hehehe.. Yah, beginilah ilustrasinya: sedangkan perhitungan suara di TPS saja bisa berlangsung sampai jauh malam, bagaimanalah kami yang harus menangani sebanyak satu kecamatan.

Begitu ngejelimet, begitu banyak pekerjaan, dan KPUD terus mengrim pesan bahwa kami HARUS mengerjakannya secepat mungkin. Lah, bagaimana itu? Tapi, memang perintah KPU itu bisa dimengerti karena semakin lama laporan nangkring, semakin besar kemungkinan dicurangi..

Empat hari yang rasanya begtu gelap karena kami benar-benar hampir putus informasi dari dunia luar. Tanpa sinya HP dan tanpa TV. Tanpa hiburan apapun. Sekali saya coba bandel, menggunakan ORARI untuk memanggil rekan yang bertugas di kecamatan lain. Eh! Ternyata dijawab. Jadilah kami ngobrol ngalor-ngidul. Hanya 5 menit saat ada suara bapak-bapak tau-tau ikut nimbrung:

‘Adek-adek, saya ingatkan! ORARI hanya dipergunakan untuk berkomunikasi yang perlu saja dan tidak untuk pembicaraan pribadi. INI PERINGATAN TERAKHIR!’

Ampuuuuunnn!!!

Pelajaran ketiga jadi relawan pemilu: jangan ngegosip di ORARI

Setelah rampung semuanya dan pulang ke Jatinangor, saya tidur sampai berbelas-belas jam. Bangun dan merasa kangen serta ingin tahu apa yang terjadi selama saya pergi di dunia, saya langsung menyetel TV dan kaget dengan berita-beritanya:

TERJADI KECURANGAN! Disinyalir bahwa sengaja KPU menampilkan data di wilayah tertentu dahulu untuk memberi kesan pada masyarakat bahwa partai tertentu yang menang.

Yeeee, kumaha sih! Itu kan karena jaringannya buka-tutup. Kebetulan kali yang nyampe duluan dari pulau itu.

DATA ENTRY KERJANYA GAK BERES!

Saya matikan TV. Sial, saya udah kerja hampir tidak berhenti selama 96 jam dan yang pertama kali saya lihat adalah orang-orang yang mengata-ngatai apa yang saya kerjakan.

Akhirnya saya pergi ke kampus, langsung bertemu kawan simpatisan salah satu prtai tertentu.

‘Heh, Al. Lo kan relawan data entry ya?’

Iya, ini gue baru pulang.

‘Lo kerja tuh yang becus dong! Gak beres lo.’

Apaan sih! Lo gak tau gimana kerjaan kita disana. Kelihatannya emang gampang, tapi ribet tau!

‘Ya, LO ITU YANG GAK BECUS. PARTAI GUE NIH BANYAK DICURANGI SAMA ORANG-ORANG MACAM LO’

Oh, iya ya.. Yang gue tahu, selama 4 hari gue kerja, itu beberapa partai datang. Mereka melongok, liat bagaimana sih kerjaan kita. Tapi gak ada dari partai lo. Partai lo itu, mau tau aja enggak, datang gak, tapi ngoceh panjang lebar merasa dicurangi. Kalau emang merasa, kumpulin buktinya tuntut KPUnya, jangan berkoar-koar aja di media. Seakan-akan dizholimi orang.

Yang diatas itu adalah kata-kata yang berkecamuk di dalam dada saya, dan saya harap, saya sanggup mengatakannya. Sedangkan yang keluar dari mulut saya hanyalah kalimat yang lemah:

Lo kan gak tau gimana kita kerjanya..

‘ALAAAAH, LO KAN ANTEKNYA KPU!’

Pelarajaran keempat jadi relawan pemilu: kalau jadi relawan pemilu, jangan bilang-bilang ke orang. Cukup kita aja yang tau. Daripada nanti kena bentak tiba-tiba.

Huaaaa… Saya kan cuma RELAWAN yang kerja dapet upah uang makan doang.

Makanya, mendengar orang-orang berkoar-koar di sana-sini sekarang, saya senyum-senyum aja. Hati saya kepada mereka-mereka yang telah betugas dan mungkin masih bertugas, saya yakin mereka berusaha sebisa mungkin untuk mengerjakan tugasnya dengan sebaik-baiknya. Selamat bertugas dan selamat istirahat.

Gak usah dengerin media, hihi…

Jumat, 20 Februari 2009

Tes Posting


Ini adalah posting uji coba praktek membuat blog

Sabtu, 07 Februari 2009

Pokoknya Saya Mau di SD ajah

Saya sedang duduk berbincang-bincang, menemani bu Kirsan yang sedang memasak makan malam. Kesana dan kemari. Membicarakan beberapa hal, masalah sekolah dan yang lain-lain. Tau-tau, perbincangan kita beralih kepada rencana yayasan yang akan membuka SMPI tahun-tahun depan.

‘Al, kayaknya kamu bakal ngajar di SMP deh nantinya. Beberapa kali, pak Ketua Yayasan membicarakan itu. ‘

Apa? SMP? Walah, Kir, sekarang aja aku udah lumayan stres ini menghadapi anak-anak beranjak ABG. Kadang pengen tereak sendiri, Tolooooong! Somebody help me! Kembalikan saya ke kelas 2 please…

Bu Kirsan ketawa.

Mengajar kelas kecil, capek fisik. Anak-anaknya masih banyak perlu bantuan untuk apapun. Tapi, tiap hari ketawa-tawa. Sementara mengajar kelas besar, belum satu tahun saja, saya merasa kening saya sudah banyak berkerut. Suara saya meninggi. Astaga.. astaga! Kelas 4 dan 5 itu, sudah dimulai deh masa-masa pemberontakannya. Saya kesal karena mulai merasa banyak sekali mengatakan kata yang paling tidak saya suka:

POKOKNYA.. bla..bla..bla…

Belum satu tahun, anak-anak saya sudah berubah pendapat mengenai saya. Tadinya menurut mereka, saya guru yang lucu. Sekarang, berdasarkan tulisan beberapa anak kelas lima, saya adalah guru yang sangat tegas. Walaupun kelas IPS tetap merupakan kelas fave anak-anak, tapi itu sudah membuat saya terhenyak.

Bayangin, saya udah gak lucu lagi.

Ah, masa sih saya udah gak lucu?

SMP?

Adik saya SMP, dan saya sering clenut-clenut dibuatnya. Padahal, itu Cuma satu orang anak di rumah. Bagaimana menghadapi segambreng anak ABG lagi demen-demennya memberontak.

Pokoknya, saya mau di SD aja.

Rabu, 07 Januari 2009

Tukang Busa

Kawan saya selama liburan kemarin latihan naik sepeda bolak-balik ke kantornya. Katanya, mobilnya mau dikandangkan. Cuma dipake pas pergi-pergi dan musti bawa banyak orang, atau perjalanan jauh saja. Sebab sudah terlalu banyak orang naik mobil pribadi ke kantor.

Bikin macet.

Polusi.

Sekalian olahraga.

Saya nyengir, beneran niat? Gak bisa nebeng minta jemput lagi dong saya.

Mau kan, digonceng? Katanya.

Kalau kuat, gak masalah. Asal jangan saya nanti yang musti gantian ngebonceng kalo jantungmu keteteran.

Kalau kamu kuat berdiri dari pinggir Jakarta sampai rumahmu, katanya. Boncengannya boncengan yang berdiri.

Gak deh! Mending naik angkot aja.

Lucu juga ya? Bener juga tapinya.

Gak usah berbusa-busa ngeluh soal kemacetan di Jakarta kalau Anda masih pakai mobil pribadi sendirian tiap hari ke kantor!

Gak usah berbusa-busa ngoceh masalah global warming ataupun polusi atau pencemaran kalau Anda masih pergi naik mobil pribadi sendirian tiap hari ke kantor!

Sebab, Anda hanya tukang busa!

Wiiih, galaaakkk!!!

Minggu, 04 Januari 2009

Road Trip Kali Ini

Seperti biasa, saat liburan, kami pergi jalan-jalan. Bukan tamasya ke tempat-tempat wisata, tapi kami senangnya menghabiskan waktu di jalan raya di dalam mobil. Road Trip. Adik saya Anne yang memulai sebutan itu. Kayak film, katanya.

Road Trip kali ini rutenya adalah rute yang paling sering kami lalui: Jakarta-Subang-Lembang-Bandung-Bogor-Jakarta. Sebenernya, saya agak malas, namun ada beberapa urusan. Di Subang dan Bogor, lalu sekonyong-konyong, semua bilang: ya udah, Road Trip aja..

Peserta: Seperti yang biasa, minus Anne. Sayang sekali dia harus tetap di rumah, menulis artikel. Juga laporan praktek mengajarnya heuheuheu… Maap ye, ditinggal kali ini.

Dari Jakarta berangkat lebih cepat dari biasanya, jam 5 sore. Biasanya selepas maghrib kami baru mulai meninggalkan rumah. Ke Bekasi dulu jemput Uli dan Tia. Tiba di Subang selepas Isya. Sempat bengong dulu depan rumah nenek karena ternyata nenek sedangpergi. Tapi pas udah bisa masuk rumah, kita ngegabruk di lantai. Tapi tentu, gak seru kalau gak menggasak nasi+sambal goangnya Nek yang mak nyos ntu. Lalu, cengengesan.

Nek: Tia, si Baim Wong teh, orang Puwodadi

Tia: Ehh, iya ya nek?

Nek: He-eh. Itu, bapaknya punya toko mas, ceuna! (menunjuk-nunjuk sesuatu di dinding)

Beberapa menit kemudian, saya berdiri dan memperhatikan apa yang tadi ditunjuk-tunjuk Nek, lalu merasa geli sekali. Ternyata yang ditunjuk itu kalender 2009 bergambar pemain sinetron Baim Wong. Kalender itu dikeluarkan oleh sebuah toko emas yang berlokasi di Purwodadi, he..

Pagi-pagi saya, AV dan Tia berangkat ke sawah. Mau ngapain coba ke sawah? Mau poto-poto. Nah, gak penting bukan? Saya rada males karena perjalanannya itu yang melelahkan. Maklum, udah gak selincah dulu waktu masih bocah. Sumpah deh, itu turun ke bawah curam banget. Gak bisa pakai sandal karena pasti bakal putus. Belum lagi jembatan horror yang, sebetulnya sih gak layak dibilang jembatan. La orang Cuma terdiri dari sebatang bamboo doang.

Beuh, meni riweh!

Saya sering heran kalau ingat bahwa itu kan jalur yang biasa saya lalui saat kecil dulu. Ternyata saya waktu bocah, jagoan!

Di sawah poto-poto. Terlalu narsis buat dipajang disini. Nanti Anda pnigsan lagi, atau lebih parah, disedot buat nakut-nakutin kucing.

Walaupun emang kenyataannya norak minta ampun dan setengah sedeng—poto-poto di sawah??—tapi entahlah. Itu semacam ritual setiap ke Subang. Waktu kecil, setiap ke desa ini, kami selalu tak sabar menunggu ke sawah. Mau ngapain? Mau bertualang (AKA menghayal). Menjelajah sawah, nyebur di empang nangkepin ikan dan belut, lalu membakarnya. Bangor :P Saat gedean dikit, kita mulai berani makin jauh menyusuri sungai.

Pulang dari sawah, kita mandi dan siap-siap pergi. Saya sempat keluyuran sekitar rumah. Menemukan permen Davos, masih dijual di warung. Ini permen kesukaan saya waktu kecil. Saya sampai memotretnya. Permen Davos diatas meja yang ditutupin taplak Golkar.

Ini juga jajanan saya semasa kecil, susu-susuan dan balon. Kalo balon sampai sekarang memang masih banyak dijumpai.

Selama beberapa saat kami ngider-ngider di jalan desa, sempat melewati kburan keluarga. Saya jadi ingat beberapa bulan yang lalu, terakhir kita ke sini. Ceritanya mau ziarah kubur sebentar. Nah bagi keluarga saya, nyang namanya ziarah kubur itu ngebersihin kuburan dan doa-doa sekedarnya. Alfatehah, lalu ngedoain yang dikubur itu, biar dimudahkan. Tapi pas kita ziarah beberapa bulan yang lalu, beberapa keluarga senior ikutan. Nah, dianggap anak kecil, ikutanlah kita acara ziarahnya mereka.

‘Illa hadrotin nabi rosulillah…. ‘ kata kakeknya Imam. ‘Yaasin..’

Jegrek!!! Saya terbengong-bengong. Yasin?

‘Yaa siiin. Walqur’aanil hakim…’

Jam 10 kami berangkat ke Lembang.

Sebelum berangkat, kita rembukan. Apa di Bandung yang belum pernah kita datengin? Semuanya sepakat: Bosscha… Lalu dengan PDnya, kita samperin tempat ngeker bintang ntu. Tau-tau, di depan jalan kecil masuk ke dalam, ada tulisan.

Hari Sabtu-Minggu dan hari-hari libur nasional tutup.

Jegrek!! Tutup jek! Kumaha eta?

Ya gimana lagi, kata saya. Masa mau lompat pager nerobos ke sono!

Eh! Apa lompat pager aja ya, lalu nekat nerobos ke sono. Mumpung muda gitu loh! Masa gak ada kenangannya sih ditangkep polisi? Ya gak sih? (Ini guru gak pantes dicontoh!)

Akhirnya, kita cuma terpesona melihat pajangan kecil berbentuk teropong yang dijual abang-abang di depan pintu pagar. Tapi gak ada yang nekat beli hehehe… Lalu, ngacir.

Gak jadi mau main Sherina dan Saddam heuheu…

Bandung, entah kenapa nyampenya ke Chiampelas lagi..Chiampelas lagi…

Kata yang lain: Bosen ah! Murahan baju-baju di PGC.

AV: Kan mumpung disini, mampir dulu napa. Liat-liat aja, kan seru.

Tia: Perasaan mumpung disini terus. Kita ke sini kan sering banget.

Saya: Gak seru! Kalau mampirnya di Kwitang, baru seru. (Yang lain menyeringai. Aduh Anne, temenku satu sekte kutu buku, kenapa sih gak ikut…!!)

Tia: Ini dua orang, gak shalat Jum’at? (Nunjuk cowo-cowo)

AV: Ya udah, sambil yang lain Jum’atan, pinggir dulu aja.

Akhirnya minggir juga. Saya sempat liat-liat baju bentar sebelum kambuh tuh phobia bikin saya mual. Heran, saya gak tahan banget yang namanya ikut cewe-cewe belanja, baru beberapa menit saja, langsung mual-mual pengen muntah.

Mungkin saya tadi harusnya ikutan aja shalat Jum’at sama cowo-cowo ya?

Akhirnya, menyerah. Saya berpisah dari cewe-cewe yang jelas sudah mulai terlihat kalap dan bakalan seru ngubek-ngubek sampai ujung. No..no! Saya masuk ke gang kecil di sela-sela FO lalu mulai menyusuri sampai jalan kecil menuju rumah-rumah penduduk yang luarbiasa padat. Bertemu dengan anak-anak yang sedang main sambil jajan di depan suatu mushalla kecil. Saya beli es potong yang harganya gope’an (gope: lima ratus rupiah), lalu duduk asik makan sambil memperhatikan anak-anak itu yang sedang asik main Bete (Taplak Bulan). Hehehe..beberapa bulan yang lalu, saya mengajarkan anak-anak kelas 5 main permainan ini. Jadi ingat, saat Arif jatuh bedebum ke lantai karena kehilangan keseimbangan saat musti ningkring (lompat satu kaki) 5 kotak beturut-turut.

Es potongnya enak loh. Lumayan lah untuk jajanan pinggir jalan yang gak jelas begitu. Saya beli yang rasa alpukat, ternyata benar-benar alpukat. Masih tersisa serpihan-serpihan daging alpukat yang tidak hancur.

Saya memperhatikan anak-anak sambil senyum-senyum sendiri sampai sadar, ternyata anak-anak juga memperhatikan saya. Terheran-heran. Ini orang dari mana, gitu kali ya pikiran mereka. Tau-tau nongol, nongkrong terus ngeliatin anak-anak main. Entahlah, saya teringat pada hari ambil rapot, salah seorang walimurid berkata pada saya,

‘Saya senang di sekolah ini banyak bergeraknya. Banyak olahraga, banyak kegiatan di luar kelas. Saya lihat, pelajaran anak-anak sekarang itu berat sekali. Bahkan saya kasih soal anak saya ke keponakan yang tinggal di Inggris, dia tuh gak bisa. Pelajaran di sini kelas 4, mungkin di sana baru SMP. Yang saya pikirin itu, kasihan anak-anak sekarang, apa yang diingat nanti kalau besar. Yang menginspirasi kita hari ini kan saat-saat kecil waktu kita main bu Alifia, waktu kita kesana dan kemari. Hal-hal seperti itu yang menginspirasi kita hari ini. Anak-anak yang sekarang, nanti apa yang diingat mereka? Belajar terus-terusan?’

Kami pergi sekitar pukul dua siang. Tadinya masih mau keliling Bandung, gak macet tumben banget. Tapi demi mengejar urusan di Bogor yang musti rampung hari ini, kita tancap gas. Langsung pergi karena tau, bakal macet.

Kejebak macet di Cipanas sampai Puncak.

Macetnya betul-betul tidak bergerak. Paling lama saat kami tepat di depan masjid At Ta’awun. Ada kru salah satu stasiun TV sedang siaran, melaporkan kemacetan ini mungkin. Niatnya pas kamera mengarah jalan, kita mau nyengir-nyengir najong gitu kea rah kamera dan melambai-lambai. Gak apa-apa norak sekali-kali (sekali-kali? Lah, poto-poto di sawah itu?). Tapi tu kamera kagak nyorot-nyorot ke kita, pegel nunggunya. Suebell…

Akhirnya, bercanda jadi garing dan menyebalkan juga. Saya tertidur karena bosan, pas bangun terkejut sekali, ternyata masih di depan At Ta’awun. Astaga! Semua mobil mati mesinnya, orang-orang berada di luar duduk-duduk dan ngobrol. Beberapa keluarga malahan udah sebodo teing, menggelar tiker dan makan. Asiknya…

Tiba di Bogor sudah Isya. Urusan selesai, kita saling tengok-tengokan.

Jadi, mau kemana lagi?

Mau kemana? Mumpung di Bogor.

Pulang, kata semuanya.. Semangat kita amblas gara-gara macetnya yang kelamaan.

Ke Jakarta?

Iyaaa… Udah ah! Pulang aja!

Ya udah, pulang. Maunya pada gitu. Sampai Road Trip selanjutnya.

Senin, 17 November 2008

Saran

Saat kuliah semester satu, saya bertemu bapak ini.

Beliau adalah dosen MK Agama Islam.

Ketika pertama saya melihat MK ini di tercantum di KRS, saya mengeluh. Udah kuliah masih ada pelajaran agama Islam? Bukannya saya gak suka namun apakah tidak buang-buang waktu saja. Pada akhir masa SMA saya membayangkan bahwa jalannya kuliah seperti kisah-kisah di buku yang saya baca atau di film. Walaupun saya juga membaca di Battle for God sang penulis mengeluhkan jalannya perkuliahan di Negara-negara berkembang yang memprihatinkan, kelas dipenuhi orang yang berjubel hingga berjumlah ratusan, dosen ngoceh panjang lebar serta mahasiswa sibuk mencatat sampai berjam-jam. Saya memutuskan tidak mengambil MK Agama Islam yang ternyata gagal karena MK itu adalah wajib. Untung MK itu wajib.

Hari pertama sang dosen datang, berjalan tertatih-tatih. Bapak ini sudah tua. Beliau langsung mengumumkan bahwa MK Agama Islam isisnya bukan pelajaran shalat atau yang seperti itu. Tapi sebuah diskusi mengenai agama islam. Beliau bertanya, apakah kami membawa al Qur’an. Beliau menginginkan kami membawa al qur’an terjemahan setiap masuk perkuliahannya.

Beberapa orang berkata, bawa.

Beliau bertanya pada kami semua apakah kami orang Islam?

Ya…

Apakah kami percaya semua doktrin dalam Islam?

Ya..

Apakah kami percaya bahwa di dalam al qur’an terdapat semua tuntunan hidup sehingga kita tidak perlu mencari dari sumber yang lain?

Ya..

Kalau begitu, carikan saya ayat tentang menyembuhkan Kangker Darah!

Tentu tidak ada.

Tidak ada?

Tidak ada.

Berarti al qur’an tidak lengkap. Tidak bisa jadi tuntunan hidup. Lalu kenapa kalian beragama Islam?

Nah begitu. Tidak seperti dosen kebanyakan yang ceramah, memberi fotokopi banyak dan menyuruh mencatat panjang sekali, bapak tua ini memaksa kami berpikir setiap perkuliahan. Beliau selalu membawakan kami pertanyaan pertanyaan pelik, membawa sesuatu untuk didiskusikan, dan sering memancing perdebatan yang panas dan panjang. Tentu tidak semua siswa setuju walaupun semua sepakat bahwa beliau adalah dosen yang hebat. Kebanyakan yang tidak setuju lebih dikarenakan materi yang diperdebatkan itu. Ya..selalu pelik jika bicara mengenai agama. Namun bagi saya pribadi, saya meninggalkan MK ini dengan rasa sedih dan kehilangan.

Saya tidak pernah bertemu dengan beliau lagi sampai pada suatu hari, beberapa hari sebelum beliau meninggal dunia.

Hari itu saya datang lebih cepat. Saya muncul di kampus pukul 8 pagi sementara kuliah saya baru dimulai pukul 10.30. Salah jadwal? Tidak, itu memang sengaja. Saya malas datang siang sebab hari sudah panas. Seperti hari-hari biasanya saya menuju perpustakaan. Namun hari itu perpustakaan penuh orang, terpaksa pergi mencari tempat lain yang sepi untuk bisa baca buku dengan tenang. Berjalan-jalan mencari kelas yang kosong. Saya menemukan satu kelas yang dari luar tidak ada suara, saya masuk, langsung berhenti. Bapak dosen ada didalam, duduk di kursi siswa membaca buku sendirian.

Beliau berdiri dan membereskan barang-barang.

‘Mau masuk kelas?’ tanyanya..

Ada kelas disini pak?

Kami bicara berbarengan. Beliau mengernyit.

‘Tidak.. saya Cuma mencari tempat yang sepi untuk membaca buku.’

Oooo.. sama aja ternyata. Saya agak ragu, tapi kemudian memutuskan untuk berkata

saya juga mencari tempat untuk membaca.

‘Oh, ya sudah. Silahkan…’ beliau membuka kembali buku dan membaca. Saya duduk beberapa kursi disebelah beliau dan membaca buku dengan tenang. Kami berdua membaca, tidak mengganggu satu sama lain.

Hampir satu jam kemudian, saya mengintip jam tangan. Si bapak menoleh.

‘Sudah mau mulai kuliahnya?’

Gak, masih satu jam lagi.

Dia tertawa.

‘Mbak jurusan apa sih?’

Perpustakaan.

Kami berkenalan. Lucu ya, berkenalan. Ya tentu, lah dulu waktu saya masuk kuliahnya beliau kan di kelas ada lebih dari 400 orang. Satu fakultas satu angkatan. Weleh-weleh. Walaupun saya cukup aktif di kelas, yang lain juga aktif. Rame lah kelas selalu.

‘Begini, saya mau minta pendapat. Menurut Mbak, bagaimana perkuliahan saya?’

Saya mengangkat alis.

Beliau mengungkapkan apa harapan beliau akan perkuliahan, apa sebetulnya yang ingin dia sampaikan sepanjang waktu kuliah yang singkat. Namun beliau juga mengungkapkan beberapa hal yang mengganggu pikirannya. Apa-apa yang membuat beliau gelisah. Dan akhirya, pertanyaan apakah dia adalah seorang guru yang baik? Beliau mengungkapkan beberapa kelemahan perkuliahannya (metode maupun isi) dan beliau meminta saran saya bagaimana agar bisa lebih baik.

Saya agak melongo. Tidak pernah dalam hidup saya seorang guru mengungkapkan hal-hal tersebut secara gamblang. Beberapa guru saya tentu saja selalu terbuka terhadap kritik dan saran, namun tidak secara sukarela memintanya kepada siswanya. Kebanyakan dosen mah maju terus pantang mundur dengan cara dia mengajar yang terkadang membuat saya seperti kembali ke SMA saat hampir sepanjang hari dihabiskan dengan mencatat (yups, masa SMA adalah masa terburuk sekolah. Masa siswa paling gak aktif). Beberapa dosen yang memberi inovasi saat mengajar selalu berbicara bahwa ‘cara kita belajar seperti ini adalah cara yang lebih baik’ seakan-akan dia sendri yang menerapkan dan seakan-akan sudah sempurna. Bapak dosen ini sudah tua, tapi siapa yang menjamin bahwa guru muda selalu lebih baik dari guru yang sudah senior.

Selama satu jam saya dan bapak dosen yang sangat dihormati ini terlibat diskusi yang seru. Saya memberi beberapa saran. Lalu kami diskusi mengenai buku dan pemikiran-pemikiran Karen Armstrong. Sungguh saya rela tanpa mikir untuk mengorbankan kuliah saya hari itu demi tetap berada di sebelahnya, bahkan mungkin saya rela jika saya menggagalkan mata kuliah ini demi saya berdiskusi dengan bapak dosen satu hari dalam seminggu. Perasaan apa yang saya dapatkan dari diskusi setengah jam itu jauh lebih banyak daripada 3 jam duduk mendengarkan ceramah ibu dosen yang gak ada matinya. Tapi sial, kami duduk dikelas yang akan saya masuki. Setengah jam kemudian, kawan-kawan saya mulai berdatangan. Si bapak dosen berdiri membereskan barang-barangnya. Saya membantunya.

Cari kelas kosong lagi pak?

‘Ya kalau kita bisa meneruskan diskusi, tapi Mbak mau masuk kelas. Saya mau pulang kalau begitu. Supir saya sepertinya sudah selesai. Saya sebenarnya menunggu supir saya ada urusan.’

Dalam hati: Oh no! Gak papa, mari cari kelas lain. Saya sebal mata kuliah ini.

‘Diskusi yang menyenangkan Alifia, mungkin lain kali kita lanjutkan lagi. Wassalam.’

Wa’alaikum salam.

Hari itu berlalu begitu saja. Saya dengan kesibukan saya. Saya lupa. Saya baru ingat kembali saat beberapa minggu kemudian saya tanpa sengaja melihat kertas pengumuman besar di madding kampus.

INNALILLAHI WA INNA ILAIHI ROJI’UN

TELAH MENINGAL DUNIA

…………………………………………………….

Saya terpana mendekatkan muka saya dekat sekali dengan kertas, menyentuhkan telapak tangan saya pada permukaannya.

Dia telah pergi..